JAKARTA, 22 Oktober 2026 — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat akumulasi 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah terdampak hingga Kamis, 22 Oktober 2026.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Ten Suyanti, menyebutkan masih terdapat 4.522 kasus harian. Pemerintah menyiapkan 477 titik Rumah Oksigen, memperkuat kesiapan 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit, serta menyalurkan jutaan masker, obat-obatan, oksigen konsentrator, dan perlengkapan medis untuk menangani dampak kabut asap di tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota.
Kemenkes Catat 333.470 Kasus ISPA Akibat Karhutla
Kementerian Kesehatan mencatat total kumulatif 333.470 kasus ISPA akibat karhutla di berbagai wilayah terdampak. Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Ten Suyanti, menyampaikan data tersebut di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Menurut Ten, jumlah kasus harian masih mencapai 4.522 kasus. Kelompok rentan yang menjadi perhatian meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Data kumulatif tersebut dilaporkan ketika pemerintah memperkuat pelayanan kesehatan dan distribusi bantuan medis bagi masyarakat yang terpapar asap kebakaran hutan dan lahan.
Rincian Kasus ISPA Berdasarkan Kelompok Usia
Dalam data yang disampaikan pada bahan awal, jumlah penderita ISPA dibagi menjadi dua kelompok usia:
- Balita usia 0–5 tahun: 75.172 kasus.
- Usia di atas 5 tahun: 258.258 kasus.
Kelompok balita menjadi perhatian dalam penanganan dampak kesehatan akibat karhutla. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan termasuk kelompok yang menjadi sasaran perlindungan kesehatan.
Sebagai pembanding, data Kemenkes yang diberitakan pada 21 Oktober 2026 mencatat 314.124 kasus kumulatif hingga 20 Oktober. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70.890 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun dan 243.234 kasus pada kelompok usia di atas 5 tahun.
Pada 20 Oktober 2026, Kemenkes mencatat 3.269 kasus ISPA harian di wilayah terdampak.
Empat Provinsi Mencatat Kenaikan Tren Kasus
Kemenkes mencatat tren kasus ISPA dibandingkan tahun sebelumnya mengalami peningkatan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan Riau.
Sementara itu, tren kasus di Kalimantan Barat menunjukkan penurunan. Kalimantan Timur relatif sama dengan tahun sebelumnya, sedangkan Jambi menunjukkan kondisi yang setara dibandingkan periode pembanding.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Ten Suyanti menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sejumlah wilayah terdampak karhutla mengalami kualitas udara dalam kategori berbahaya.
Enam provinsi prioritas yang disebut Kemenkes adalah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Sebaran Wilayah dengan Kualitas Udara Berbahaya
Berdasarkan pemantauan Kemenkes, sejumlah kabupaten dan kota di wilayah terdampak karhutla mencatat kategori kualitas udara berbahaya hingga sangat tidak sehat.
Rinciannya meliputi:
- Kalimantan Tengah: tujuh kabupaten/kota masuk kategori berbahaya.
- Sumatra Selatan: Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir masuk kategori berbahaya. Kabupaten Ogan Ilir tercatat dalam kategori sangat tidak sehat.
- Jambi: Muaro Jambi dan Tebo masuk kategori berbahaya, sedangkan Tanjung Jabung Timur masuk kategori sangat tidak sehat.
- Kalimantan Selatan: Kota Banjarmasin dan Kabupaten Tabalong masuk kategori berbahaya, sedangkan Barito Kuala masuk kategori sangat tidak sehat.
- Kalimantan Timur: Kabupaten Kutai Barat tercatat dalam kategori berbahaya.
- Kalimantan Barat: Kota Pontianak tercatat dalam kategori berbahaya.
- Riau: empat wilayah tercatat dalam kategori sangat tidak sehat.
Paparan asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya. Menurut Kemenkes, paparan tersebut berisiko memicu ISPA, asma, PPOK, iritasi mata dan kulit, serta gangguan kesehatan lainnya.
Kemenkes Siapkan 477 Rumah Oksigen di Tujuh Provinsi
Kementerian Kesehatan menyediakan 477 titik Rumah Oksigen di puskesmas, rumah sakit, dan lokasi pelayanan lainnya untuk menangani dampak kesehatan akibat karhutla.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan jumlah dan sebaran fasilitas tersebut di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Rumah Oksigen disiapkan untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap. Fasilitas ini menggunakan bangunan yang dirancang agar kedap asap dan dapat digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga terdampak.
Rincian Sebaran Rumah Oksigen
Sebanyak 477 titik Rumah Oksigen tersebar di tujuh provinsi sebagai berikut:
- Kalimantan Tengah: 295 titik.
- Kalimantan Selatan: 127 titik.
- Kalimantan Timur: 8 titik.
- Kalimantan Barat: 35 titik.
- Jambi: 5 titik.
- Riau: 4 titik.
- Sumatra Selatan: 3 titik.
Jumlah seluruh fasilitas tersebut mencapai 477 titik.
Kemenkes juga menyediakan dashboard pemantauan untuk membantu masyarakat mengetahui informasi kualitas udara dan lokasi Rumah Oksigen terdekat.
1.691 Puskesmas dan 360 Rumah Sakit Diperkuat
Selain menyediakan Rumah Oksigen, Kemenkes memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak karhutla.
Sebanyak 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit disiapkan untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pemerintah juga menyediakan layanan kesehatan gratis di puskesmas dan rumah sakit daerah untuk menangani penyakit akibat dampak karhutla, termasuk ISPA dan diare.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menginstruksikan seluruh puskesmas di wilayah terdampak untuk membuka layanan Rumah Oksigen dan menjamin ketersediaan obat-obatan, khususnya untuk penanganan ISPA dan diare.
Instruksi tersebut disertai pengiriman tambahan masker, oksigen konsentrator, dan obat-obatan sesuai kebutuhan setiap daerah.
Distribusi Masker dan Obat-obatan
Kemenkes melaporkan sekitar 3,7 juta masker N95 dan masker bedah telah dikirimkan ke wilayah terdampak. Distribusi tersebut merupakan bagian dari rencana pengiriman tambahan 500.000 masker untuk setiap provinsi terdampak.
Selain masker, pemerintah mendistribusikan oksigen konsentrator, alat pelindung diri (APD), obat-obatan, dan perlengkapan kesehatan lainnya.
Jumlah obat-obatan yang dilaporkan tersedia dan didistribusikan mencapai 578.878 unit, mencakup obat batuk, obat diare, antibiotik, serta 1.500 vitamin dan logistik kesehatan.
Kemenkes juga memobilisasi lebih dari 2.600 tenaga kesehatan, yang terdiri atas dokter, perawat, epidemiolog, dan tenaga kesehatan lainnya.
Layanan Kesehatan Bergerak dan Penjangkauan dari Rumah ke Rumah
Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan tenaga kesehatan setempat menyiapkan penjangkauan pelayanan kesehatan untuk warga yang terdampak asap karhutla.
Layanan tersebut mencakup kunjungan posyandu ke rumah-rumah, terutama untuk memastikan anak-anak, ibu hamil, dan lansia tetap memperoleh pelayanan kesehatan ketika masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar rumah.
Kemenkes juga menerjunkan kembali tim Pusat Krisis Kesehatan untuk memantau distribusi bantuan, operasional Rumah Oksigen, serta kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Peralatan Medis untuk Layanan Keliling
Dalam bahan informasi yang disampaikan, armada layanan kesehatan keliling disebut dilengkapi dengan:
- Oksigen konsentrator (oxygen concentrator).
- Tabung oksigen portabel atau Oxycan.
- Masker respirator standar medis.
- Obat-obatan penunjang untuk penyakit asma dan diare.
Layanan bergerak tersebut ditujukan untuk menjangkau permukiman yang sulit mengakses fasilitas kesehatan, termasuk kawasan yang terdampak kabut asap.
Penanganan Kelompok Rentan
Kemenkes memprioritaskan perlindungan anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan PPOK.
Pemerintah

Ano Bano merupakan jurnalis investigasi pada isu hukum, hankamtibmas, dan keterbukaan informasi publik lainya. Memiliki sertifikasi Kompetensi Wartawan Dewan Pers, Investigasi Tempo Institue. Berkomitmen menyajikan karya jurnalisme Profesional
WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Diterbitkan pertama kali oleh Ano Bano pukul 21:12, tanggal 22 Oktober 2026 di Warta Bela Negara - WBN.
CATATAN REDAKSI
Pemberitaan dilaksanakan dengan mengacu pada UU Pers, kaidah jurnalistik, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.
Apabila terdapat kekeliruan atau keberatan atas pemberitaan, pembaca dapat mengajukan hak jawab dan koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.
PENERBIT
Warta Bela Negara - WBN (wartabelanegara.com)
Legalitas oleh PT Danakirti Media Groups. NIB: 2801220007313 · KBLI: 58130, 63122, 63912.




