PeristiwaUtama

Kabut Asap Palangka Raya Makin Parah, Langit Oranye dan Sekolah PJJ hingga 17 Oktober

Ano Bano
4
×

Kabut Asap Palangka Raya Makin Parah, Langit Oranye dan Sekolah PJJ hingga 17 Oktober

Sebarkan artikel ini
Kabut Asap Palangka Raya Memburuk, Langit Memerah
Kabut Asap Palangka Raya Memburuk, Langit Memerah

KOTA PALANGKA RAYA, 15 Oktober 2026 – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hingga Kamis (15/10/2026). Langit tampak kekuningan hingga oranye, sementara jarak pandang dilaporkan menurun hingga kurang dari satu kilometer di sejumlah lokasi.

Memburuknya kualitas udara mengganggu aktivitas masyarakat dan mendorong Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa PAUD, SD, dan SMP hingga 17 Oktober 2026.

Kabut Asap Palangka Raya Memburuk, Langit Berubah Kekuningan Kemerahan

Kondisi atmosfer di Palangka Raya menjadi perhatian setelah asap dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti sejumlah kawasan perkotaan. Langit yang biasanya tampak biru terlihat kekuningan hingga oranye akibat pekatnya asap dan partikel pencemar di udara.

Laporan media pada 14–15 Oktober 2026 menggambarkan kondisi udara yang semakin mengganggu kegiatan sehari-hari. Warga menghadapi keterbatasan jarak pandang dan risiko gangguan pernapasan akibat paparan asap dalam waktu lama.

Warna langit yang terlihat berbeda tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh wilayah Palangka Raya mengalami perubahan menjadi merah pekat. Warna yang terlihat dapat berbeda menurut lokasi, ketebalan asap, kondisi cahaya matahari, dan waktu pengamatan.

Karena itu, fenomena yang berkembang saat ini lebih tepat diberitakan sebagai langit menguning hingga oranye akibat kabut asap karhutla, sesuai dengan laporan kondisi lapangan yang tersedia.

Data Karhutla Palangka Raya dan Kalimantan Tengah

Berdasarkan laporan  pada 14 Oktober 2026 yang mengutip data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, luas hutan dan lahan yang terbakar di wilayah kota tersebut telah mencapai sekitar 1.444 hektare.

Laporan yang sama menyebutkan terdapat 548 titik panas di Kota Palangka Raya dan 11.166 titik panas di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. BPBD juga mencatat 887 kejadian karhutla di Palangka Raya selama periode Juni hingga 13 Oktober 2026.

Angka-angka tersebut menggambarkan besarnya persoalan kebakaran di wilayah setempat. Namun, titik panas atau hotspot merupakan indikasi yang perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan dan tidak selalu berarti setiap titik merupakan kebakaran aktif.

Sementara itu, laporan mengenai indeks kualitas udara menunjukkan tingkat pencemaran yang sangat tinggi. Angka yang diberitakan dapat berbeda menurut lokasi pemantauan, waktu pengukuran, serta jenis indeks yang digunakan. Oleh sebab itu, angka dari instrumen atau sistem pemantauan berbeda perlu dibedakan sebelum dibandingkan.

Mengapa Langit Palangka Raya Berwarna Kuning dan Oranye?

Perubahan warna langit berkaitan dengan interaksi cahaya matahari dengan partikel yang berada di atmosfer. Asap kebakaran mengandung partikel halus, jelaga, dan berbagai senyawa hasil pembakaran yang dapat menghamburkan serta menyerap cahaya.

Ketika asap semakin pekat, cahaya yang mencapai permukaan bumi dapat berubah intensitas dan warnanya. Dalam kondisi tertentu, langit terlihat kekuningan, jingga, atau kemerahan, terutama ketika posisi matahari rendah.

Fenomena ini tidak tepat dijelaskan hanya dengan hamburan Rayleigh. Hamburan Rayleigh terutama berkaitan dengan partikel yang jauh lebih kecil daripada panjang gelombang cahaya, sedangkan aerosol dan partikel asap memiliki ukuran serta karakteristik yang beragam. Hamburan Mie dan proses penyerapan cahaya juga dapat berperan dalam membentuk warna yang terlihat.

Dengan demikian, warna langit merupakan salah satu gejala visual pencemaran atmosfer, tetapi tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan tingkat bahaya udara. Penilaian risiko tetap memerlukan pengukuran partikulat dan parameter kualitas udara lainnya.

Kualitas Udara Berbahaya, Warga Diminta Mengurangi Aktivitas Luar Ruangan

Paparan kabut asap karhutla berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung.

Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, sesak napas, dan memperburuk penyakit yang telah diderita.

Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus keluar rumah, penggunaan respirator yang sesuai, seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Masker kain biasa tidak memberikan tingkat penyaringan yang setara.

Warga juga disarankan menutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan permukiman, menjaga udara dalam ruangan tetap sebersih mungkin, serta mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat atau gejala yang memburuk.

Dinas Pendidikan Perpanjang PJJ hingga 17 Oktober 2026

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memperpanjang pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP) pada 15–17 Oktober 2026.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Aprae Vico Ranan, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut didasarkan pada hasil pemantauan kualitas udara selama 11–14 Oktober 2026 yang menunjukkan kondisi belum membaik.

Perpanjangan PJJ dilakukan sebagai langkah perlindungan terhadap kesehatan siswa di tengah tingginya pencemaran udara akibat karhutla.

Kebijakan tersebut tidak otomatis berarti seluruh sekolah pada semua jenjang pendidikan di Palangka Raya diliburkan. Informasi yang tersedia secara spesifik menyebutkan peserta didik PAUD, SD, dan SMP yang menjalani pembelajaran dari rumah.

Evaluasi terhadap kondisi udara diperlukan untuk menentukan apakah pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan setelah periode kebijakan tersebut berakhir.

Kabut Asap Meluas hingga Timor-Leste

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan masyarakat Indonesia. Asap kebakaran di kawasan regional dilaporkan turut memengaruhi kualitas udara di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Timor-Leste dan Singapura.

Pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Administrasi Negara menetapkan penghentian sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka pada 15–17 Oktober 2026.

Kebijakan itu berlaku secara nasional bagi lembaga pendidikan dalam jaringan layanan pendidikan publik, termasuk sekolah negeri, swasta, dan kooperatif yang tercakup dalam ketentuan pemerintah. Para siswa diarahkan untuk belajar dari rumah, sementara sekolah diminta menyiapkan tugas agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung.

Pemerintah Timor-Leste menyebut keputusan tersebut diambil setelah menerima informasi dari Direktorat Nasional Meteorologi dan Geofisika mengenai memburuknya kualitas udara akibat partikel pencemar dari kebakaran di kawasan sekitar.

Di Singapura, laporan Reuters pada 14 Oktober 2026 juga mencatat lonjakan PM2.5 di wilayah barat negara tersebut hingga 284 mikrogram per meter kubik dalam pengukuran satu jam. Angka itu menunjukkan memburuknya pencemaran partikulat pada lokasi dan waktu pengukuran tersebut.

Meski demikian, penetapan sumber asap yang mencapai suatu wilayah memerlukan analisis meteorologi dan pergerakan massa udara. Asal asap, jalur penyebaran, serta kontribusi masing-masing kawasan kebakaran tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kesamaan waktu munculnya kabut.

Karhutla dan Ancaman Pencemaran Udara Lintas Negara

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut dapat sulit dipadamkan karena api berpotensi menjalar di bawah permukaan tanah dan terus menghasilkan asap. Kondisi kering yang berkaitan dengan fenomena El Niño turut meningkatkan kerentanan sejumlah wilayah terhadap kebakaran.

Laporan Reuters pada 15 Oktober 2026 menyoroti memburuknya musim kebakaran di Indonesia, terutama di wilayah yang mengalami degradasi gambut. Kondisi tersebut memperbesar tantangan pemadaman sekaligus meningkatkan risiko pencemaran udara bagi masyarakat.

Dampak karhutla karena itu tidak berhenti pada batas administratif suatu daerah atau negara. Partikel asap dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran.

Penanganan persoalan ini membutuhkan pemadaman yang berkelanjutan, pemantauan kualitas udara, perlindungan kesehatan masyarakat, serta pencegahan kebakaran berulang melalui pengelolaan lahan dan ekosistem gambut.

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Diterbitkan pertama kali oleh Ano Bano pukul 17:35, tanggal 15 Oktober 2026 di Warta Bela Negara - WBN.

CATATAN REDAKSI

Pemberitaan dilaksanakan dengan mengacu pada UU Pers, kaidah jurnalistik, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Apabila terdapat kekeliruan atau keberatan atas pemberitaan, pembaca dapat mengajukan hak jawab dan koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.

PENERBIT

Warta Bela Negara - WBN (wartabelanegara.com)

Legalitas oleh PT Danakirti Media Groups. NIB: 2801220007313 · KBLI: 58130, 63122, 63912.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas SiliwangiJenderal Suyudi Ario Seto - Menjadi Polisi Adalah Kehormatan