Erupsi dan GempaUtama

Gunung Semeru Kembali Erupsi , Puluhan Gempa Letusan Tercatat dan Warga Diminta Waspada

Ano Bano
0
×

Gunung Semeru Kembali Erupsi , Puluhan Gempa Letusan Tercatat dan Warga Diminta Waspada

Sebarkan artikel ini
Gunung Semeru Kembali Erupsi
Gunung Semeru Kembali Erupsi

LUMAJANG, 18 Oktober 2026 – Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Minggu (18/10/2026). Aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.

Pengamatan kegempaan pada pukul 18.00–23.59 WIB mencatat 29 kali gempa letusan, tiga gempa guguran, dan tiga gempa hembusan. Masyarakat diminta mematuhi zona bahaya, terutama di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan yang berpotensi terdampak awan panas guguran dan aliran lahar.

Gunung Semeru Erupsi Lagi pada 18 Oktober 2026

Erupsi Gunung Semeru tercatat terjadi pada Minggu pukul 00.39 WIB. Saat laporan aktivitas diterbitkan, erupsi masih berlangsung, sedangkan tinggi kolom letusan secara visual tidak teramati.

Kondisi tersebut tidak berarti aktivitas vulkanik berhenti. Pengamatan instrumental tetap merekam kejadian kegempaan yang menjadi bagian dari pemantauan aktivitas gunung api.

Pada Sabtu (17/10/2026), Semeru juga mengalami tiga kali erupsi dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak.

Dalam salah satu letusan pada Sabtu pagi, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal teramati bergerak ke arah barat. Tinggi kolom letusan dan arah pergerakan abu dapat berubah mengikuti kondisi erupsi serta angin pada saat pengamatan.

Data Kegempaan Gunung Semeru pada Minggu Malam

Pengamatan seismograf pada Minggu pukul 18.00–23.59 WIB merekam puluhan kejadian kegempaan. Rinciannya sebagai berikut:

1. Sebanyak 29 Gempa Letusan

Sebanyak 29 kali gempa letusan atau erupsi tercatat selama periode pengamatan tersebut.

Gempa letusan memiliki amplitudo 12–25 milimeter dengan durasi berkisar 0,6–160 detik.

Data ini menunjukkan bahwa aktivitas letusan masih berlangsung selama periode pemantauan. Namun, jumlah kejadian dalam satu rentang waktu tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa tingkat ancaman pasti meningkat atau menurun.

2. Tiga Gempa Guguran

Seismograf juga merekam tiga kali gempa guguran dengan amplitudo 2–5 milimeter.

Durasi kejadian berkisar 59–86 detik. Aktivitas guguran perlu mendapat perhatian karena material vulkanik yang bergerak menuruni lereng dapat menimbulkan bahaya, terutama apabila berkembang menjadi awan panas guguran.

3. Tiga Gempa Hembusan

Selain gempa letusan dan guguran, tercatat tiga kali gempa hembusan dengan amplitudo 5–9 milimeter.

Durasi gempa hembusan berkisar 38–50 detik.

Seluruh angka tersebut merupakan data untuk periode pengamatan pukul 18.00–23.59 WIB, bukan akumulasi kegempaan sepanjang hari. Data harian secara keseluruhan perlu merujuk pada laporan pengamatan lengkap.

Status Semeru Level III atau Siaga

Status aktivitas Gunung Semeru pada 18 Oktober 2026 berada pada Level III atau Siaga.

Dalam kondisi ini, masyarakat harus mengikuti rekomendasi keselamatan berdasarkan zona bahaya yang ditetapkan otoritas pemantauan gunung api.

Radius 5 Kilometer dari Kawah

Masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Semeru karena kawasan tersebut rawan terhadap lontaran batu pijar.

Larangan ini berlaku sebagai langkah pencegahan terhadap bahaya material vulkanik yang dapat terlontar ketika terjadi letusan.

Sektor Tenggara Besuk Kobokan hingga 13 Kilometer

Zona berbahaya juga mencakup sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

Masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di sepanjang sektor tersebut sesuai rekomendasi keselamatan yang berlaku.

Sempadan Sungai Besuk Kobokan

Di luar batas 13 kilometer, masyarakat juga diminta menjauhi area sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan.

Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas guguran dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.

Ancaman tidak hanya berasal dari letusan yang terlihat secara langsung. Material vulkanik yang terbawa air hujan juga dapat mengalir melalui sungai dan lembah yang berhulu di kawasan puncak.

Waspadai Awan Panas, Guguran Lava, dan Lahar

Masyarakat di lereng Semeru, terutama di kawasan yang berdekatan dengan aliran sungai berhulu di puncak, perlu memperhatikan perkembangan aktivitas vulkanik dan kondisi cuaca.

Beberapa aliran sungai yang perlu diwaspadai meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang terhubung dengan aliran tersebut.

Potensi bahaya dapat meningkat ketika hujan mengguyur kawasan puncak dan lereng. Air hujan dapat membawa material vulkanik yang sebelumnya mengendap di alur sungai.

Warga diminta tidak mendekati aliran sungai ketika terdapat peringatan bahaya, hujan lebat di kawasan hulu, atau tanda-tanda aliran material vulkanik.

Apakah Abu Vulkanik Mengarah ke Malang dan Blitar?

Arah sebaran abu vulkanik tidak selalu sama pada setiap erupsi. Pada Sabtu (17/10/2026), kolom abu Semeru dilaporkan bergerak ke arah barat dalam salah satu kejadian letusan.

Namun, arah pergerakan abu pada satu waktu tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk memastikan wilayah yang mengalami hujan abu pada Minggu (18/10/2026).

Informasi mengenai paparan abu di Kecamatan Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, maupun wilayah Kabupaten Blitar perlu disesuaikan dengan pengamatan terbaru. Tanpa konfirmasi yang memadai, wilayah-wilayah tersebut belum dapat dinyatakan sebagai daerah terdampak hujan abu pada hari ini.

Warga yang melihat abu vulkanik di lingkungan tempat tinggalnya disarankan menggunakan masker dan pelindung mata ketika beraktivitas di luar ruangan. Abu juga perlu dibersihkan secara hati-hati agar tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Titik Pengungsian dan Informasi Evakuasi

Lokasi pengungsian yang digunakan dalam kejadian erupsi sebelumnya tidak otomatis menjadi posko aktif untuk kondisi pada 18 Oktober 2026.

Karena itu, status operasional Balai Desa Oro-Oro Ombo, Gedung SDN 02 Supiturang, Balai Desa Sumberurip, Balai Desa Penanggal, Lapangan Desa Candipuro, dan Kantor Kecamatan Candipuro perlu dipastikan melalui koordinasi pemerintah daerah atau petugas penanggulangan bencana setempat.

Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana sebaiknya mengetahui jalur evakuasi, lokasi berkumpul yang telah ditetapkan, serta arahan petugas apabila evakuasi diperlukan.

Jangan memutuskan menuju lokasi pengungsian hanya berdasarkan unggahan media sosial yang tidak mencantumkan waktu pembaruan atau konfirmasi dari pihak berwenang.

Informasi aktivitas gunung api dapat dipantau melalui MAGMA Indonesia. Untuk kebutuhan evakuasi dan informasi posko, masyarakat dapat mengikuti pengumuman BPBD Kabupaten Lumajang, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa setempat.

Semeru Catat Ribuan Erupsi Sepanjang 2026

Data kumulatif yang diberitakan pada 18 Oktober 2026 menyebutkan bahwa aktivitas letusan gunung api di Indonesia telah mencapai 5.166 kejadian sepanjang tahun berjalan.

Dalam catatan tersebut, Gunung Semeru menempati urutan teratas dengan 2.009 kejadian letusan, disusul Gunung Ibu di Maluku Utara.

Angka tersebut merupakan data kumulatif yang dilaporkan pada tanggal tersebut, bukan jumlah erupsi yang terjadi hanya pada 18 Oktober. Pembaruan berikutnya dapat mengubah jumlah akumulasi seiring bertambahnya hasil pengamatan.

Frekuensi erupsi juga tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator besarnya ancaman. Penilaian risiko tetap memerlukan informasi mengenai karakter letusan, potensi awan panas, guguran material, arah sebaran abu, kondisi cuaca, dan wilayah yang terpapar.

Imbauan bagi Masyarakat di Lereng Semeru

Masyarakat di Kabupaten Lumajang dan Malang diminta tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan peringatan bahaya. Aktivitas di sekitar kawah, jalur aliran material vulkanik, dan sempadan sungai yang masuk zona terlarang harus dihindari.

Warga juga perlu menyiapkan masker, melindungi mata ketika terjadi hujan abu, serta memastikan anggota keluarga mengetahui jalur evakuasi yang berlaku di wilayah masing-masing.

Perkembangan status gunung, data kegempaan, dan arahan keselamatan harus mengacu pada informasi resmi yang diperbarui. Apabila terjadi perubahan kondisi di lapangan, keputusan evakuasi hendaknya mengikuti instruksi petugas berwenang.

Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga pada 18 Oktober 2026. Selama aktivitas vulkanik berlanjut, kewaspadaan masyarakat dan kepatuhan terhadap zona bahaya menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko korban jiwa.

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Diterbitkan pertama kali oleh Ano Bano pukul 07:40, tanggal 18 Oktober 2026 di Warta Bela Negara - WBN.

CATATAN REDAKSI

Pemberitaan dilaksanakan dengan mengacu pada UU Pers, kaidah jurnalistik, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Apabila terdapat kekeliruan atau keberatan atas pemberitaan, pembaca dapat mengajukan hak jawab dan koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.

PENERBIT

Warta Bela Negara - WBN (wartabelanegara.com)

Legalitas oleh PT Danakirti Media Groups. NIB: 2801220007313 · KBLI: 58130, 63122, 63912.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas SiliwangiJenderal Suyudi Ario Seto - Menjadi Polisi Adalah Kehormatan