InternasionalOlahraga

Sanksi FIFA untuk Spanyol Dipertahankan, RFEF Bawa Kasus Chant Islamofobia ke CAS

Ano Bano
3
×

Sanksi FIFA untuk Spanyol Dipertahankan, RFEF Bawa Kasus Chant Islamofobia ke CAS

Sebarkan artikel ini
Sanksi FIFA Spanyol: RFEF Ajukan Banding ke CAS
Sanksi FIFA Spanyol: RFEF Ajukan Banding ke CAS

BARCELONA, Sabtu, 17 Oktober 2026 — Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) memutuskan membawa sengketa sanksi FIFA ke Pengadilan Arbitrase Olahraga atau Court of Arbitration for Sport (CAS) setelah upaya banding internalnya ditolak.

Kasus ini berkaitan dengan nyanyian bernada Islamofobia yang dilontarkan sebagian suporter saat pertandingan persahabatan Spanyol melawan Mesir pada 31 Maret 2026 di RCDE Stadium, Barcelona.

FIFA mempertahankan denda US$20.000 dan kewajiban menutup sedikitnya 15 persen kapasitas tempat duduk pada pertandingan persahabatan kandang Spanyol berikutnya.

Sanksi FIFA Spanyol Tetap Berlaku Setelah Banding Ditolak

Keputusan penolakan banding yang diumumkan pada Oktober 2026 membuat sanksi disiplin terhadap RFEF tetap berlaku. Federasi Spanyol kini menempuh jalur hukum olahraga internasional untuk memperjuangkan keberatan mereka terhadap hukuman tersebut.

RFEF menilai sanksi penutupan sebagian stadion terlalu berat jika dibandingkan dengan langkah-langkah penanganan yang telah mereka lakukan selama pertandingan berlangsung. Federasi menyatakan telah mendeteksi nyanyian diskriminatif, memberi tahu perangkat pertandingan, memperkuat pengamanan, serta bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mengidentifikasi suporter yang terlibat.

Meski demikian, FIFA mempertahankan keputusan bahwa tindakan sebagian penonton tersebut merupakan pelanggaran disiplin terkait diskriminasi.

Hingga 17 Oktober 2026, belum ada keputusan CAS yang membatalkan atau mengubah hukuman FIFA. Dengan demikian, langkah RFEF ke CAS merupakan proses lanjutan yang hasil akhirnya masih harus menunggu pemeriksaan lembaga arbitrase olahraga tersebut.

Kronologi Chant Islamofobia dalam Laga Spanyol vs Mesir

Insiden yang menjadi dasar sanksi FIFA terjadi pada pertandingan persahabatan internasional antara Spanyol dan Mesir di RCDE Stadium, Barcelona, pada Selasa, 31 Maret 2026.

Pertandingan yang menjadi bagian dari persiapan menuju Piala Dunia 2026 tersebut berakhir dengan skor imbang 0-0. Namun, jalannya pertandingan diwarnai tindakan diskriminatif dari sebagian penonton tuan rumah.

Nyanyian anti-Muslim terdengar pada menit ke-10 dan awal babak kedua

Sebagian suporter Spanyol meneriakkan yel-yel bernada anti-Muslim dengan kalimat yang bermakna, “Siapa yang tidak melompat berarti Muslim.”

Nyanyian tersebut terdengar sekitar menit ke-10 babak pertama dan kembali muncul pada awal babak kedua. Kalimat itu dinilai merendahkan identitas agama dengan menjadikan Muslim sebagai sasaran ejekan dalam pertandingan sepak bola.

Setelah nyanyian kembali terdengar, pengumuman melalui pengeras suara stadion memperingatkan penonton agar tidak melakukan tindakan diskriminatif. Papan skor stadion juga menampilkan pesan yang mengecam perilaku tersebut.

Peringatan itu merupakan bagian dari upaya menghentikan tindakan diskriminatif di tengah pertandingan. Namun, insiden tersebut tetap menjadi dasar pemeriksaan disiplin terhadap federasi sepak bola Spanyol.

Polisi Spanyol menyelidiki insiden

Sehari setelah pertandingan, kepolisian Spanyol memulai penyelidikan terkait nyanyian yang muncul di stadion. FIFA kemudian menjalankan proses disiplin terhadap RFEF sebagai federasi yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pertandingan tim nasional tersebut.

Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada arti harfiah kata yang digunakan suporter, tetapi juga konteks penggunaannya sebagai ejekan terhadap identitas keagamaan.

Kasus ini kemudian berkembang menjadi persoalan disiplin internasional karena FIFA menilai tindakan diskriminatif di stadion harus ditangani secara tegas, terlepas dari apakah pelanggaran dilakukan oleh sebagian atau seluruh penonton.

Alasan FIFA Menolak Pembelaan RFEF

Dalam proses pemeriksaan, RFEF berargumentasi bahwa kata “Muslim” bukanlah kata yang secara harfiah bersifat menghina atau merendahkan. Federasi juga meminta agar tindakan suporter dinilai berdasarkan Pasal 17 Kode Disiplin FIFA, yang mengatur persoalan pesan politik, ideologis, keagamaan, atau ofensif.

Namun, FIFA menggunakan Pasal 15 yang mengatur perilaku diskriminatif dan tindakan rasis sebagai dasar penilaian terhadap insiden tersebut.

Konteks penggunaan kata menjadi pertimbangan utama

FIFA menegaskan bahwa suatu kata tidak harus berupa hinaan eksplisit untuk dapat dikategorikan sebagai tindakan diskriminatif. Penggunaannya dalam konteks tertentu, termasuk sebagai ejekan, olok-olok, atau penanda yang merendahkan kelompok tertentu, dapat menjadi unsur pelanggaran.

Dalam kasus Spanyol melawan Mesir, nyanyian tersebut dinilai menjadikan identitas Muslim sebagai sasaran ejekan kolektif.

Perbedaan penafsiran inilah yang menjadi salah satu pokok sengketa antara RFEF dan FIFA. RFEF menekankan respons serta langkah mitigasi yang telah dilakukan, sedangkan FIFA mempertahankan penilaian bahwa konteks nyanyian tersebut memenuhi unsur pelanggaran diskriminasi.

Rincian Hukuman FIFA terhadap Federasi Sepak Bola Spanyol

FIFA menjatuhkan sanksi finansial dan pembatasan penonton kepada RFEF. Hukuman tersebut tetap berlaku setelah banding internal federasi ditolak.

1. Denda US$20.000

RFEF diwajibkan membayar denda sebesar US$20.000. Jika menggunakan ilustrasi kurs Rp16.500 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp330 juta. Nilai rupiahnya dapat berubah mengikuti kurs yang berlaku.

Denda ini merupakan bagian dari hukuman disiplin atas tindakan diskriminatif yang dilakukan sebagian suporter dalam pertandingan melawan Mesir.

2. Penutupan minimal 15 persen kapasitas tempat duduk

FIFA juga memerintahkan penutupan sedikitnya 15 persen dari kapasitas tempat duduk yang tersedia pada pertandingan persahabatan kandang tim nasional putra Spanyol berikutnya.

Pembatasan tersebut berlaku untuk pertandingan persahabatan kandang, bukan otomatis untuk seluruh pertandingan Spanyol di berbagai kompetisi.

Tanggal dan stadion pelaksanaan sanksi bergantung pada jadwal pertandingan kandang berikutnya serta penerapan keputusan FIFA. Karena itu, tanggal pasti pelaksanaan hukuman belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pengumuman sanksi pada Oktober 2026.

3. Area khusus untuk kelompok tertentu

Ketentuan sanksi juga memungkinkan area yang dibatasi bagi penonton umum dialokasikan kepada kelompok tertentu, seperti pelajar, keluarga, dan kelompok yang mendukung upaya pemberantasan diskriminasi, sesuai ketentuan pelaksanaan yang harus dipenuhi.

Pengaturan tersebut tidak berarti hukuman penutupan stadion dihapus. Pembatasan terhadap penonton umum tetap menjadi bagian dari sanksi, sedangkan penggunaan area oleh kelompok khusus harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

Lamine Yamal Kecam Nyanyian Anti-Muslim

Pemain sayap tim nasional Spanyol, Lamine Yamal, turut mengecam tindakan sebagian suporter dalam pertandingan melawan Mesir. Sebagai seorang Muslim, pemain Barcelona tersebut menilai penggunaan agama sebagai bahan ejekan tidak dapat dibenarkan.

Yamal menyebut tindakan tersebut tidak menghormati orang lain dan tidak dapat ditoleransi. Ia juga mengecam perilaku yang dinilainya mencerminkan ketidaktahuan dan rasisme.

Kecaman dari pemain tim nasional sendiri memperlihatkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menyangkut hubungan antara federasi dan FIFA, tetapi juga menyentuh persoalan penghormatan terhadap identitas agama di lingkungan sepak bola.

Insiden itu sekaligus menempatkan isu Islamofobia dalam sorotan publik, terutama mengenai tanggung jawab penyelenggara dan federasi dalam mencegah perilaku diskriminatif di stadion.

RFEF Nilai Hukuman Terlalu Berat dan Tidak Proporsional

RFEF menyatakan telah bertindak segera setelah mengetahui adanya nyanyian diskriminatif. Federasi mengklaim sistem pemantauan internal mendeteksi insiden tersebut dan informasi langsung disampaikan kepada perangkat pertandingan.

RFEF juga menyatakan telah memperkuat pengamanan di area tribun terkait serta bekerja sama dengan otoritas yang berwenang untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Menurut posisi federasi, langkah-langkah tersebut berhasil menghentikan pengulangan nyanyian dan mendorong penonton lain untuk menunjukkan penolakan terhadap perilaku diskriminatif.

Namun, RFEF menilai hukuman FIFA terlalu berat jika dibandingkan dengan tindakan yang telah dilakukan serta penanganan kasus-kasus lain yang dinilainya lebih serius.

Keberatan tersebut tidak diterima dalam proses banding internal FIFA. Karena itu, federasi memutuskan melanjutkan sengketa ke CAS.

RFEF Bawa Sengketa Sanksi FIFA ke CAS

Pengadilan Arbitrase Olahraga yang berkedudukan di Lausanne, Swiss, menjadi tujuan berikutnya bagi RFEF untuk memperjuangkan keberatannya terhadap hukuman FIFA.

CAS merupakan lembaga independen yang menangani sengketa di bidang olahraga melalui mekanisme arbitrase. Dalam perkara ini, RFEF ingin memperoleh pemeriksaan lanjutan atas keputusan disiplin yang tetap dipertahankan setelah banding internal ditolak.

Pokok keberatan RFEF mencakup tingkat beratnya hukuman, langkah mitigasi yang telah dilakukan, serta perbandingan sanksi tersebut dengan kasus-kasus disiplin lainnya.

Di sisi lain, keputusan FIFA memperlihatkan bahwa tindakan diskriminatif tidak hanya dinilai berdasarkan kata-kata yang digunakan, tetapi juga tujuan dan konteks penggunaannya.

Hingga Sabtu, 17 Oktober 2026, langkah menuju CAS menjadi perkembangan hukum terbaru dalam perkara tersebut. Belum ada hasil akhir dari proses arbitrase yang dapat dijadikan dasar untuk menyatakan sanksi FIFA telah dibatalkan.

Kasus Spanyol Menjadi Sorotan Penanganan Diskriminasi di Sepak Bola

Kasus nyanyian anti-Muslim dalam pertandingan Spanyol melawan Mesir menunjukkan bahwa perilaku suporter dapat menimbulkan konsekuensi disiplin bagi federasi sepak bola.

Penerapan sanksi terhadap RFEF juga menegaskan perbedaan antara penanganan langsung di stadion dan pertanggungjawaban disiplin setelah pertandingan. Peringatan kepada penonton serta kerja sama dengan kepolisian menjadi bagian dari respons, tetapi tidak otomatis menghapus konsekuensi atas pelanggaran yang telah terjadi.

Perkembangan perkara ini selanjutnya bergantung pada proses yang ditempuh RFEF di CAS. Jika keputusan FIFA tetap dipertahankan, federasi harus menjalankan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Jika CAS memutuskan berbeda, pelaksanaan hukuman dapat mengikuti hasil putusan tersebut.

Untuk saat ini, fakta hukumnya tetap jelas: banding internal RFEF telah ditolak, sanksi FIFA masih berlaku, dan federasi Spanyol berencana melanjutkan perlawanan hukumnya ke CAS.

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Diterbitkan pertama kali oleh Ano Bano pukul 13:14, tanggal 17 Oktober 2026 di Warta Bela Negara - WBN.

CATATAN REDAKSI

Pemberitaan dilaksanakan dengan mengacu pada UU Pers, kaidah jurnalistik, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Apabila terdapat kekeliruan atau keberatan atas pemberitaan, pembaca dapat mengajukan hak jawab dan koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.

PENERBIT

Warta Bela Negara - WBN (wartabelanegara.com)

Legalitas oleh PT Danakirti Media Groups. NIB: 2801220007313 · KBLI: 58130, 63122, 63912.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas SiliwangiJenderal Suyudi Ario Seto - Menjadi Polisi Adalah Kehormatan