Pertahanan Keamanan dan Ketertiban

Kontak Tembak Maybrat, 5 Anggota OPM Dilaporkan Tewas

Ano Bano
4
×

Kontak Tembak Maybrat, 5 Anggota OPM Dilaporkan Tewas

Sebarkan artikel ini
Kontak Tembak Maybrat, 5 Anggota OPM Dilaporkan Tewas
Kontak Tembak Maybrat, 5 Anggota OPM Dilaporkan Tewas

MAYBRAT, 10 OKTOBER 2026 — Kontak tembak antara personel TNI dan kelompok bersenjata yang diidentifikasi sebagai TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, terjadi dalam dua peristiwa terpisah pada 3 dan 9 Oktober 2026. Berdasarkan laporan aparat, lima anggota kelompok tersebut dilaporkan tewas, termasuk komandan operasi Manfred Fatem, sementara pengecekan identitas dan pencarian dua jasad masih menjadi bagian perkembangan operasi terbaru.

Kronologi Kontak Tembak di Maybrat pada 3 Oktober 2026

Peristiwa pertama berlangsung pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026, di kawasan Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat. Kontak tembak tersebut melibatkan personel gabungan TNI dan kelompok bersenjata yang disebut sebagai TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya pimpinan Manfred Fatem.

Panglima Komando Operasi TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, menyampaikan bahwa dua anggota kelompok bersenjata meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Keduanya diidentifikasi sebagai Arso Aisnak dan Yohanes KY.

Pergerakan pasukan gabungan di kawasan hutan

Berdasarkan keterangan yang diberitakan setelah kejadian, personel TNI yang terlibat antara lain berasal dari Satgas Rajawali V dan Satgas Pamtas Yonif 9 Marinir.

Dalam informasi pendukung yang beredar, operasi juga dikaitkan dengan unsur Denkul IV Satgas Rajawali V Koops Habema serta Yonif 764-IB. Namun, rincian lengkap susunan seluruh unsur yang terlibat masih memerlukan konfirmasi dari keterangan resmi operasi.

Pergerakan kelompok bersenjata pimpinan Manfred Fatem dilaporkan terdeteksi melalui dukungan teknologi dan informasi lapangan. Sejumlah narasi yang beredar di media sosial turut menyebut penggunaan teknologi pencitraan termal untuk membantu pemantauan pergerakan pada malam hari.

Meski demikian, rincian mengenai penggunaan teknologi tersebut dan dugaan penerapan metode operasi yang menyerupai taktik pasukan Navy SEAL Amerika Serikat belum dapat dipastikan melalui sumber independen yang diperiksa.

Kontak tembak dan dua korban dari kelompok bersenjata

Setelah terjadi kontak senjata, dua orang yang diidentifikasi sebagai anggota kelompok bersenjata dilaporkan tewas. Arso Aisnak disebut menjabat sebagai Komandan Komando Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya, sedangkan Yohanes KY disebut sebagai Komandan Batalyon Karef Hamit.

Kedua nama tersebut sebelumnya diberitakan sebagai bagian dari struktur kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Sorong Raya.

Adapun informasi bahwa pasukan TNI lebih dahulu memberikan imbauan agar kelompok tersebut menyerah, kemudian mendapat tembakan yang disebut berasal dari Manfred Fatem, merupakan bagian dari narasi operasi yang beredar. Urutan kejadian secara terperinci belum dapat dipastikan secara independen dari sumber yang diperiksa.

Pihak TNI menyatakan tidak ada personel yang menjadi korban dalam kontak tembak tersebut.

Barang Bukti yang Diamankan dalam Operasi 3 Oktober

Setelah kontak tembak, personel TNI melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Informasi pendukung mengenai operasi pertama menyebut sejumlah barang diamankan sebagai barang bukti.

Barang-barang tersebut meliputi:

  • Satu pucuk senjata api jenis revolver.
  • Sepuluh butir amunisi tajam.
  • Amunisi cadangan yang disebut diperuntukkan bagi senjata otomatis.
  • Sejumlah senjata tajam dan perlengkapan lapangan.
  • Alat komunikasi berupa handy talky (HT).
  • Telepon seluler.
  • Atribut organisasi dan dokumen yang disebut berkaitan dengan kelompok tersebut.
  • Dua lembar bendera Bintang Kejora.

Rincian tersebut perlu dibedakan dari barang bukti yang ditemukan dalam operasi berikutnya pada 9 Oktober. Jenis dan jumlah barang bukti pada setiap peristiwa harus merujuk pada laporan masing-masing operasi.

Perkembangan 9 Oktober 2026: Manfred Fatem Dilaporkan Tewas

Enam hari setelah kontak tembak pertama, personel TNI kembali terlibat kontak senjata dengan kelompok bersenjata yang diidentifikasi sebagai TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya.

Berdasarkan keterangan Koops TNI Habema yang diberitakan pada Jumat, 9 Oktober 2026, kontak tembak terjadi di kawasan hutan sebelah utara Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto menyampaikan bahwa tiga anggota kelompok bersenjata dilaporkan tewas dalam peristiwa tersebut. Satu korban diidentifikasi sebagai Manfred atau Manfret Fatem, yang disebut menjabat sebagai komandan operasi atau Danops Kodap IV Sorong Raya.

Peristiwa ini menjadi perkembangan penting karena Manfred sebelumnya dilaporkan melarikan diri setelah kontak tembak pada 3 Oktober.

Dua korban lainnya masih dalam proses verifikasi

Dalam laporan awal mengenai kontak tembak 9 Oktober, dua korban lainnya diduga bernama Yesias Fatem dan Antonius Assem alias Anton Fatem.

Yesias Fatem disebut menjabat sebagai Komandan Batalyon Mosata, sedangkan Antonius Assem alias Anton Fatem disebut sebagai Komandan Batalyon Ayosami dalam struktur Kodap IV Sorong Raya.

Namun, saat laporan awal disampaikan, identitas keduanya masih dalam proses verifikasi. Karena itu, jabatan dan identitas tersebut perlu dipahami sebagai informasi yang masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.

Laporan ANTARA menyebut satu jenazah ditemukan di lokasi kejadian, sementara dua korban lainnya dilaporkan terbawa arus sungai dan masih dalam pencarian. Dengan demikian, laporan mengenai kematian ketiga orang tersebut perlu dibedakan dari status penemuan jasad mereka.

Lokasi dan unsur pasukan dalam kontak tembak kedua

Menurut keterangan Koops TNI Habema, kontak tembak pada 9 Oktober berlangsung ketika personel TNI menjalankan operasi pengamanan wilayah dan penanganan gangguan kelompok bersenjata.

Laporan menyebut keterlibatan Tim Patroli Gabungan Denkul 4/Satgas Rajawali V dan Satgas Yonif 9 Marinir. Sementara itu, laporan lain menyebut personel Satgas Yonif 9 Marinir terlibat dalam operasi di kawasan Sungai Frambu.

Terdapat perbedaan penyebutan titik lokasi dan waktu kontak tembak dalam sejumlah laporan awal. Karena itu, keterangan resmi yang menyebut kawasan hutan utara Kampung Kamat dan laporan yang menyebut Sungai Frambu perlu dibaca sesuai sumber masing-masing, bukan dianggap otomatis sebagai dua kejadian terpisah.

Barang Bukti dalam Operasi 9 Oktober

Dalam operasi kedua, aparat melaporkan pengamanan sejumlah barang yang ditemukan di lokasi kontak tembak. Berdasarkan keterangan Koops TNI Habema yang dikutip ANTARA, barang bukti tersebut meliputi:

  • Satu pucuk senjata api jenis AK-101.
  • Sebanyak 30 butir amunisi kaliber 5,56 milimeter.
  • Amunisi kaliber 9 milimeter.
  • Dua unit telepon seluler.

Laporan pendukung juga menyebut adanya atribut kelompok, bendera Bintang Kejora, dan dokumen yang diduga berkaitan dengan kelompok bersenjata tersebut.

Pangkoops TNI Habema menyatakan tidak ada personel TNI yang menjadi korban dalam kontak tembak pada 9 Oktober. Aparat juga menyampaikan bahwa pengamanan lokasi dan pemantauan dilanjutkan untuk mengantisipasi gangguan keamanan berikutnya.

Perkembangan Operasi dan Dampaknya terhadap Keamanan Maybrat

Dua kontak tembak pada 3 dan 9 Oktober memperlihatkan bahwa operasi keamanan di wilayah Maybrat masih berlangsung. Dalam rentang tersebut, TNI melaporkan lima anggota kelompok bersenjata tewas, yakni Arso Aisnak dan Yohanes KY dalam peristiwa pertama, serta Manfred Fatem dan dua orang lainnya dalam peristiwa kedua.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari dua kejadian berbeda berdasarkan laporan aparat, bukan korban dari satu operasi yang berlangsung bersamaan.

Perkembangan yang paling menonjol adalah laporan kematian Manfred Fatem pada 9 Oktober. Sebelumnya, setelah kontak tembak pertama, ia dilaporkan melarikan diri bersama anggota kelompok lainnya. Laporan terbaru dari TNI kemudian menyebut namanya sebagai salah satu korban dalam kontak tembak kedua.

Sementara itu, identitas dua korban lainnya dan status penemuan jasad yang diduga terbawa arus sungai masih harus mengikuti perkembangan informasi dari aparat.

TNI menyatakan operasi dilakukan untuk menjaga keamanan masyarakat dan mencegah gangguan bersenjata. Dalam keterangannya, Brigjen TNI Riyanto juga mengimbau anggota kelompok bersenjata yang masih berada di hutan agar menyerahkan diri melalui jalan damai.

Perkembangan berikutnya di Maybrat akan bergantung pada hasil verifikasi identitas korban, pencarian jasad yang belum ditemukan, serta keterangan resmi mengenai kelanjutan operasi keamanan.

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Diterbitkan pertama kali oleh Ano Bano Jam 00:43 Tanggal 11 Oktober 2026 di Warta Bela Negara - WBN.

DARI REDAKSI

Kegiatan jurnalistik mengacu pada UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, Berbadan Hukum : Pasal 1 angka 2, Pasal 9 ayat (2) , termasuk Pasal 4 ayat (3) kemerdekaan pers, Pasal 6 peranan pers, dan Pasal 8 perlindungan wartawan menjalankan tugas dan Peraturan Dewan Pers No. 5/Peraturan-DP/IV/2008 tentang Perlindungan Profesi Wartawan.

Catatan : Dalam Melaksanakan Tugas Wartawan Kami Dilengkapi ID Card Resmi dan memilki Barcode yang terhubung pada database atau teregistrasi di box redaksi

Tim Redaksi memeriksa setiap artikel yang dipublikasi sesuai : Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

SANGAHAN

Pembaca berhak memperoleh informasi yang tepat, akurat dan benar serta dapat menggunakan hak jika ada keberatan dan koreksi melalui : Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai ketentuan UU Pers dan mekanisme yang berlaku.

Penerbit

Warta Bela Negara - WBN
Situs: wartabelanegara.com

Legal

Danakirti Media News
Nomor: AHU-0017454.AH.01.01.

Bisnis

Danakirti Media Groups
Nomor: AHU-0005878.AH.01.01-2022
NIB: 2801220007313
NPWP: 63.108.079.3-002.000
KBLI: 58130, 63122, 63912