WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
JAKARTA, 26 Mei 2026 – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkuat deteksi dini dan layanan kesehatan jiwa di Puskesmas sebagai langkah memperluas akses pengobatan bagi penyandang skizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya. Upaya tersebut ditegaskan dalam Webinar Nasional Hari Skizofrenia Sedunia 2026 yang menyoroti pentingnya penghapusan stigma serta percepatan penanganan medis berbasis komunitas.
Kemenkes Perkuat Deteksi Dini dan Fokus Perluas Layanan Jiwa di Puskesmas
Direktorat Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI menggelar webinar nasional bertema “Bersama Melawan Stigma, Meningkatkan Deteksi Dini dan Memperluas Akses Pengobatan Skizofrenia” secara virtual melalui Zoom dan YouTube.
Kegiatan tersebut menghadirkan tenaga medis, psikolog, praktisi kesehatan jiwa, hingga komunitas peduli kesehatan mental untuk memperkuat kolaborasi nasional dalam penanganan gangguan jiwa.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, dr. Imran Pambudi, mengatakan penguatan fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi salah satu prioritas utama pemerintah.
Menurutnya, Puskesmas harus menjadi layanan terdepan dalam mendeteksi gejala awal gangguan jiwa sehingga pasien dapat segera memperoleh penanganan medis sebelum kondisinya memburuk.
“Skizofrenia adalah kondisi medis struktural otak, bukan kutukan atau akibat kurang iman,” ujar dr. Imran dalam webinar virtual, Selasa (26/5/2026).
Ia menilai stigma negatif yang masih berkembang di masyarakat menjadi penghambat terbesar dalam proses pengobatan pasien skizofrenia.
Banyak keluarga dinilai masih takut atau malu membawa anggota keluarganya ke fasilitas kesehatan karena khawatir mendapat penolakan sosial dari lingkungan sekitar.
Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Dinilai Sangat Penting
Dalam webinar tersebut, Kemenkes menegaskan bahwa deteksi dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang pemulihan pasien gangguan jiwa berat.
Masyarakat diminta lebih peka apabila menemukan anggota keluarga mengalami perubahan perilaku signifikan seperti menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan fungsi aktivitas sehari-hari, mengalami halusinasi, atau delusi.
Penanganan yang cepat dinilai mampu mencegah kondisi pasien berkembang menjadi lebih berat dan mengurangi risiko kekambuhan berulang.
Kemenkes juga terus mendorong peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Puskesmas agar mampu melakukan skrining kesehatan jiwa secara optimal.
Layanan Pengobatan Modern Mulai Diperluas
Pakar Psikiatri Dr. dr. Kamelia Malik, Sp.KJ, SubSp. T.A., menjelaskan bahwa tata laksana pengobatan skizofrenia kini mengalami perkembangan signifikan.
Salah satunya melalui penggunaan antipsikotik injeksi jangka panjang atau Long-Acting Injectable (LAI) yang dinilai efektif mengurangi risiko pasien putus obat.
Metode tersebut dinilai membantu menjaga kestabilan kondisi pasien skizofrenia kronis sehingga peluang pasien kembali menjalani kehidupan normal menjadi lebih besar.
Saat ini, layanan terapi LAI mulai diperluas hingga tingkat Puskesmas agar akses pengobatan menjadi lebih merata di berbagai daerah.
Peran Keluarga dan Komunitas Sangat Dibutuhkan
Selain layanan medis, webinar nasional itu juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan komunitas dalam proses pemulihan pasien.
Psikolog Retna Mariyana, M.Psi., memaparkan bahwa keluarga memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas emosional pasien serta memastikan pengobatan berjalan rutin.
Sementara itu, perwakilan komunitas kesehatan jiwa, Fithri Setya Marwati, mengajak masyarakat menjadi agen penghapus stigma terhadap penyandang gangguan jiwa.
Menurutnya, diskriminasi sosial masih menjadi persoalan serius yang membuat banyak pasien kesulitan kembali menjalani kehidupan normal di masyarakat.
Praktisi keperawatan jiwa Siti Nurhayati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., juga menegaskan pentingnya pendampingan pasien secara langsung di lingkungan komunitas agar proses rehabilitasi berjalan optimal.
Kemenkes Ajak Masyarakat Hapus Stigma Gangguan Jiwa
Kementerian Kesehatan menilai penyandang skizofrenia memiliki peluang besar untuk pulih apabila mendapatkan dukungan keluarga, akses layanan medis yang memadai, serta lingkungan sosial yang inklusif.
Melalui momentum Hari Skizofrenia Sedunia 2026, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama menghapus stigma terhadap Orang Dengan Skizofrenia (ODS).
Kemenkes juga menegaskan bahwa gangguan jiwa merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan medis profesional, bukan diskriminasi maupun pengucilan sosial.
Peringatan Hari Skizofrenia Sedunia sendiri diperingati setiap 24 Mei untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya kesehatan jiwa dan perlindungan hak penyintas gangguan mental berat.
Webinar nasional tersebut turut disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari edukasi kesehatan jiwa kepada masyarakat luas.
Tautan Webinar:
YouTube Webinar Hari Skizofrenia Sedunia 2026
Sumber Berita:
Kementerian Kesehatan RI, Webinar Direktorat Kesehatan Jiwa Kemenkes RI
Informasi Terkait: Baca rangkuman berita Nasional, Daerah, dan Internasional terbaru secara lengkap di halaman Berita Terkini Wartabelanegara .
📢 INFO TERKINI:
Dapatkan informasi lebih lengkap dan update setiap hari mengenai isu yang terjadi melalui halaman:
Berita Terbaru Warta Bela Negara
Kemenkes Perkuat Deteksi Dini dan Layanan Jiwa di Puskesmas
Diterbitkan pertama kali oleh Fahria Alfiano pada 15:15 WIB, 26 Mei 2026
Seluruh konten di portal Warta Bela Negara telah melalui proses verifikasi fakta dan penyuntingan sesuai standar operasional prosedur oleh Tim Dewan Redaksi untuk memastikan informasi yang akurat dan berimbang.
INFORMASI HUKUM & ETIKA JURNALISTIK:
Karya jurnalistik ini diproduksi dengan tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.
Kami menjamin perlindungan Hak Cipta atas seluruh materi yang dipublikasikan. Penyalinan tanpa izin atau pelanggaran hak intelektual akan ditindaklanjuti sesuai prosedur hukum.











