DaerahTradisi dan Budaya

Peringatan Hari Kebudayaan, Ketua DKKG Kang Jiwan Ajak Masyarakat Garut Hentikan Perundungan dan Tanamkan Budaya Santun

Taufik Hidayat
1
×

Peringatan Hari Kebudayaan, Ketua DKKG Kang Jiwan Ajak Masyarakat Garut Hentikan Perundungan dan Tanamkan Budaya Santun

Sebarkan artikel ini

 

GARUT, 17 Oktober 2026, Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG) menyampaikan pesan penting dalam peringatan Hari Kebudayaan, khususnya mengenai pentingnya mencegah perundungan (bullying) di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut, Kang Jiwan, mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari orang tua, tenaga pendidik, hingga pemerintah, untuk bersama-sama menanamkan nilai adab, kasih sayang, dan perilaku santun kepada generasi muda.

Dalam pesannya, Kang Jiwan menegaskan bahwa upaya menghentikan perundungan harus dimulai sejak dini melalui pendidikan karakter yang berlandaskan nilai agama dan budaya Sunda, sejalan dengan filosofi kehidupan Tri Tangtu di Buana

Mari kita hentikan perundungan dan bullying sedini mungkin di lingkungan sekolah dengan menanamkan nilai adab dan perilaku yang mencerminkan budaya santun, sejalan dengan filosofi hidup urang Sunda, Tri Tangtu di Buana,demikian pesan Kang Jiwan dalam peringatan Hari Kebudayaan tersebut.

Pendekatan Persuasif untuk Mencegah Sikap Arogansi

Menurut pesan yang disampaikan DKKG, sikap arogan pada anak tidak seharusnya diatasi melalui kekerasan maupun kemarahan. Sebaliknya, diperlukan pendekatan persuasif yang mengedepankan komunikasi, keteladanan, serta kasih sayang.

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak di lingkungan keluarga. Sikap berbicara dengan lembut, mendengarkan keluhan anak, dan membangun hubungan yang terbuka dapat membantu anak memahami perilaku yang baik dan menghargai orang lain.

Sementara itu, guru di sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. Komunikasi yang hangat serta perlakuan yang adil terhadap seluruh siswa menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya perilaku perundungan.

Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian, etika, dan tanggung jawab sosial.

Nilai Agama Menjadi Fondasi Pembentukan Akhlak

DKKG juga menekankan pentingnya nilai-nilai agama sebagai landasan dalam membangun perilaku anak dan generasi muda.

Setiap ajaran agama mengajarkan kasih sayang, keadilan, serta penghormatan terhadap sesama manusia. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan secara konsisten agar anak memahami bahwa tindakan menyakiti, merendahkan, mengancam, atau mempermalukan orang lain merupakan perilaku yang tidak dapat dibenarkan.

Pendidikan agama yang disertai keteladanan dalam kehidupan sehari-hari diharapkan mampu membentuk generasi yang memiliki akhlak baik, empati, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Memahami Makna Pamali dalam Budaya Sunda

Dalam pesan kebudayaannya, Kang Jiwan turut mengangkat tradisi lisan leluhur Sunda, khususnya konsep *pamali*, sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengandung nasihat dan batasan perilaku.

Pamali tidak semata-mata dipahami sebagai larangan yang menimbulkan rasa takut, tetapi juga dapat dimaknai sebagai bentuk nasihat leluhur untuk menjaga keselamatan, kesopanan, dan keharmonisan hidup bersama.

Beberapa istilah yang disampaikan dalam pesan DKKG antara lain:

1. Sanget

Dalam konteks perilaku manusia, istilah ini dimaknai sebagai sikap keras, kasar, atau berlebihan dalam bertindak. Pesan yang terkandung di dalamnya adalah agar setiap orang tidak bertindak sewenang-wenang dan mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dengan orang lain.

2. Angker

Dalam pemaknaan perilaku, istilah ini dikaitkan dengan sikap hormat dan kehati-hatian. Setiap orang diingatkan untuk memahami batasan serta tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan atau mencelakakan diri sendiri maupun orang lain.

3. Kulit Katincak

Istilah ini disampaikan sebagai pengingat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan kehidupan manusia saling berkaitan. Nasihat orang tua serta nilai-nilai kearifan leluhur perlu dihargai sebagai bagian dari upaya menjaga kebaikan bersama.

Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa sopan santun, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial merupakan bagian penting dari identitas budaya Sunda.

Perundungan Harus Diselesaikan Bersama

Maraknya persoalan perundungan di lingkungan pendidikan membutuhkan perhatian dan kerja sama dari berbagai pihak. Penanganannya tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau keluarga, melainkan harus melibatkan masyarakat dan pemerintah.

DKKG menekankan beberapa peran penting dalam upaya pencegahan dan penanganan perundungan.

Pertama, pihak sekolah harus menindaklanjuti setiap laporan perundungan secara serius, memberikan perlindungan kepada korban, serta melakukan pembinaan terhadap pelaku tanpa menutup-nutupi persoalan.

Kedua, keluarga perlu mengenali perubahan perilaku anak, membangun komunikasi yang terbuka, dan memberikan pendidikan dengan kasih sayang. Anak juga perlu dibiasakan untuk berani bercerita ketika mengalami atau menyaksikan perundungan.

Ketiga, masyarakat harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan tidak menganggap perundungan sebagai persoalan sepele. Lingkungan yang peduli dapat membantu mencegah kekerasan serta memberikan dukungan kepada anak yang menjadi korban.

Keempat, pemerintah diharapkan memastikan kebijakan perlindungan anak dan pencegahan perundungan diterapkan secara nyata di setiap satuan pendidikan.

Melalui sinergi tersebut, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih aman bagi anak untuk belajar, bergaul, dan mengembangkan potensi dirinya.

Menanamkan Nilai Sisi, Asah, Asih, Asuh dan Tri Tangtu di Buana

Sebagai bagian dari penguatan karakter berbasis budaya, DKKG mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.

Nilai Sisi, Asah, Asih, dan Asuh sebagaimana dimaknai dalam pesan tersebut, menjadi pengingat tentang pentingnya pendidikan, kebijaksanaan, kasih sayang, serta perlindungan terhadap sesama.

– Sisi: menumbuhkan rasa ingin tahu, semangat belajar, dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan.
– Asah: mengasah kemampuan berpikir agar tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan bijaksana.
– Asih: menanamkan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama makhluk.
– Asuh: membangun tanggung jawab untuk merawat, membimbing, dan melindungi mereka yang membutuhkan.

Selain itu, filosofi Tri Tangtu di Buana juga diangkat sebagai landasan untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Dalam penjelasan yang disampaikan DKKG, filosofi tersebut dikaitkan dengan tiga unsur kehidupan, yaitu:

– Nu Nyiptakeun: Sang Pencipta atau Tuhan, yang menjadi landasan spiritual dan tempat manusia berserah diri.
– Nu Ngalembur: orang tua dan leluhur yang patut dihormati serta dihargai nasihat dan kearifannya.
– Nu Hirup di Buana: sesama manusia yang hidup berdampingan dan harus saling menghormati.

Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan tentang budaya, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Harapan Mewujudkan Sekolah yang Aman dan Nyaman

Kang Jiwan melalui pesan DKKG berharap ke depan tidak ada lagi anak yang merasa takut berangkat ke sekolah akibat perundungan. Tidak boleh ada pula keluarga yang terus-menerus merasa cemas karena khawatir anaknya mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun psikologis.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk menuntut ilmu, mengembangkan bakat, membangun persahabatan, dan meraih masa depan.

Karena itu, setiap bentuk perundungan perlu dicegah dan ditangani dengan serius melalui pendekatan edukatif, perlindungan terhadap korban, pembinaan perilaku, serta penegakan aturan yang berlaku.

Budaya santun harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya menjadi slogan atau seruan dalam kegiatan seremonial.

DKKG Dorong Pemerintah Perkuat Pendidikan Budaya

Dalam rangka membangun generasi muda yang berkarakter, Pemerintah Kabupaten Garut diharapkan mengambil peran aktif melalui program pendidikan dan gerakan kebudayaan yang berkelanjutan.

Sejumlah langkah yang dapat menjadi perhatian bersama antara lain:

1. Mengadakan gerakan kesadaran budaya anti-perundungan secara berkelanjutan di sekolah dan lingkungan masyarakat.
2. Memperkuat pendidikan norma, budaya lokal, dan karakter melalui kurikulum muatan lokal sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Meningkatkan sinergi antara sekolah, keluarga, tokoh agama, tokoh budaya, dan pemerintah dalam membentuk perilaku generasi muda.
4. Memperkuat penerapan nilai agama dan kearifan lokal sebagai bagian dari pendidikan akhlak, etika, serta penghormatan terhadap sesama.
5. Mendorong terciptanya mekanisme pelaporan dan penanganan perundungan yang aman, cepat, serta berpihak pada perlindungan anak.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjadikan kebudayaan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan beradab.

Budaya Santun sebagai Jati Diri Masyarakat Garut

Menutup pesannya dalam peringatan Hari Kebudayaan pada 17 Oktober 2026, Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya santun sebagai jati diri urang Sunda, khususnya masyarakat Garut.

Pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan seni, upacara adat, atau kegiatan seremonial. Nilai-nilai budaya juga harus hadir dalam cara berbicara, bersikap, mendidik anak, menghormati orang tua, serta memperlakukan sesama manusia.

Dengan menanamkan nilai agama, pendidikan karakter, dan kearifan lokal sejak dini, diharapkan generasi muda Garut tumbuh menjadi generasi yang bijaksana, beradab, bertanggung jawab, dan saling mengasihi.

Budaya Santun adalah jati diri masyarakat Garut. Mari kita jaga warisan ini, mulai dari diri sendiri, di rumah, di sekolah, dan di mana pun kita berada,” demikian pesan penutup Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut.(opx)

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Diterbitkan pertama kali oleh Taufik Hidayat pukul 12:47, tanggal 18 Oktober 2026 di Warta Bela Negara - WBN.

CATATAN REDAKSI

Pemberitaan dilaksanakan dengan mengacu pada UU Pers, kaidah jurnalistik, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Apabila terdapat kekeliruan atau keberatan atas pemberitaan, pembaca dapat mengajukan hak jawab dan koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.

PENERBIT

Warta Bela Negara - WBN (wartabelanegara.com)

Legalitas oleh PT Danakirti Media Groups. NIB: 2801220007313 · KBLI: 58130, 63122, 63912.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas SiliwangiJenderal Suyudi Ario Seto - Menjadi Polisi Adalah Kehormatan