SURABAYA, 11 Oktober 2026 – Fenomena Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama berlangsung bergantian di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Timur mulai Minggu, 11 Oktober, hingga Rabu, 14 Oktober 2026. Fenomena astronomi ini terjadi ketika Matahari mencapai posisi tertinggi di langit dan berada tepat di atas kepala pengamat.
Berdasarkan jadwal yang disampaikan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, waktu kulminasi setiap wilayah berbeda, umumnya berlangsung sekitar pukul 11.00–11.21 WIB. Masyarakat dapat mengamati perubahan bayangan benda tegak pada waktu tersebut dengan tetap memperhatikan keselamatan saat cuaca terik.
Jadwal Hari Tanpa Bayangan Jawa Timur 11–14 Oktober 2026
Perbedaan letak geografis, terutama garis lintang dan bujur, membuat waktu terjadinya kulminasi utama tidak bersamaan di seluruh Jawa Timur.
Berikut jadwal beserta perkiraan waktu kulminasi utama di sejumlah wilayah pada 11–14 Oktober 2026.
1. Minggu, 11 Oktober 2026: Madura dan wilayah utara Jawa Timur
Fenomena Hari Tanpa Bayangan pada Minggu, 11 Oktober 2026, berlangsung di sejumlah wilayah bagian utara Jawa Timur dan Pulau Madura.
Berikut jadwal waktu kulminasi utama:
- Sumenep: pukul 11.11.23 WIB
- Pamekasan: pukul 11.12.54 WIB
- Sampang: pukul 11.13.49 WIB
- Bangkalan: pukul 11.15.50 WIB
- Gresik: pukul 11.16.22 WIB
- Lamongan: pukul 11.17.10 WIB
- Tuban: pukul 11.18.34 WIB
- Bojonegoro: pukul 11.19.18 WIB
Warga di wilayah tersebut dapat memperhatikan bayangan benda tegak, seperti tiang atau tongkat, menjelang waktu kulminasi. Pada saat Matahari berada di posisi tertinggi, bayangan benda akan terlihat sangat pendek dan dapat bertumpuk dengan bagian bawah benda.
2. Senin, 12 Oktober 2026: Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan sekitarnya
Pada Senin, 12 Oktober 2026, fenomena ini berlanjut ke wilayah Surabaya dan sejumlah daerah di sekitarnya, termasuk kawasan Madiun dan Ngawi.
Berikut jadwal kulminasi utama:
- Surabaya: pukul 11.15.43 WIB
- Sidoarjo: pukul 11.15.42 WIB
- Mojosari: pukul 11.16.20 WIB
- Mojokerto: pukul 11.16.51 WIB
- Jombang: pukul 11.17.38 WIB
- Caruban: pukul 11.19.56 WIB
- Madiun: pukul 11.20.16 WIB
- Ngawi: pukul 11.20.48 WIB
Surabaya dan Sidoarjo diperkirakan mengalami kulminasi sekitar pukul 11.15 WIB. Sementara itu, wilayah Madiun dan Ngawi mengalami kulminasi beberapa menit kemudian.
3. Selasa, 13 Oktober 2026: Kediri, Ponorogo, Pasuruan, dan Probolinggo
Pada Selasa, 13 Oktober 2026, kulminasi utama diperkirakan terjadi di wilayah Kediri, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Pasuruan, Probolinggo, serta beberapa daerah lainnya.
Jadwal lengkapnya sebagai berikut:
- Situbondo: pukul 11.10.18 WIB
- Bondowoso: pukul 11.11.02 WIB
- Kraksaan: pukul 11.12.40 WIB
- Probolinggo: pukul 11.13.28 WIB
- Pasuruan: pukul 11.14.42 WIB
- Bangil: pukul 11.15.11 WIB
- Batu: pukul 11.16.13 WIB
- Ngasem: pukul 11.18.09 WIB
- Kediri: pukul 11.18.17 WIB
- Nganjuk: pukul 11.18.43 WIB
- Ponorogo: pukul 11.20.29 WIB
- Magetan: pukul 11.21.01 WIB
Waktu tersebut merupakan perkiraan saat Matahari mencapai kulminasi utama di masing-masing lokasi. Pengamatan sebaiknya dilakukan di tempat terbuka yang aman dengan memperhatikan kondisi cuaca setempat.
4. Rabu, 14 Oktober 2026: Malang, Blitar, Tulungagung, hingga Banyuwangi
Pada Rabu, 14 Oktober 2026, fenomena Hari Tanpa Bayangan berlanjut di sejumlah wilayah Jawa Timur bagian selatan dan timur, termasuk Malang, Blitar, Tulungagung, Pacitan, Trenggalek, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Berikut jadwal kulminasi utama:
- Banyuwangi: pukul 11.08.36 WIB
- Jember: pukul 11.11.17 WIB
- Lumajang: pukul 11.13.12 WIB
- Kepanjen: pukul 11.15.50 WIB
- Malang: pukul 11.15.34 WIB
- Kanigoro: pukul 11.17.13 WIB
- Blitar: pukul 11.17.26 WIB
- Tulungagung: pukul 11.18.29 WIB
- Trenggalek: pukul 11.19.15 WIB
- Pacitan: pukul 11.21.41 WIB
Banyuwangi diperkirakan mengalami kulminasi paling awal dalam daftar hari tersebut, yakni sekitar pukul 11.08 WIB. Sementara itu, Pacitan mengalami kulminasi sekitar pukul 11.21 WIB.
Masyarakat dapat memantau pembaruan jadwal melalui informasi resmi BMKG apabila terdapat perbedaan data atau penyesuaian waktu untuk lokasi tertentu.
Mengapa Terjadi Fenomena Hari Tanpa Bayangan?
Hari Tanpa Bayangan terjadi ketika Matahari mencapai posisi kulminasi utama dan berada tepat di atas kepala pengamat atau di titik zenit.
Dalam kondisi tersebut, deklinasi Matahari sama dengan garis lintang lokasi pengamat. Sinar Matahari datang hampir tegak lurus terhadap permukaan tanah sehingga bayangan benda tegak menjadi sangat pendek dan dapat bertumpuk dengan benda itu sendiri.
Fenomena ini tidak membuat semua bayangan benar-benar lenyap. Bayangan masih mungkin terlihat, terutama pada benda yang memiliki bentuk tidak beraturan, bagian yang menonjol, atau permukaan yang tidak rata.
Posisi semu Matahari berubah sepanjang tahun karena kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang orbitnya. Akibatnya, waktu kulminasi utama berbeda-beda menurut lokasi dan tanggal.
Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa mengalami fenomena ini pada periode tertentu dalam setahun. Setiap kota dapat memiliki jadwal tersendiri sesuai posisi geografisnya.
Apakah Hari Tanpa Bayangan Membuat Suhu Lebih Panas?
Fenomena Hari Tanpa Bayangan kerap dikaitkan dengan cuaca yang terasa sangat terik pada siang hari. Namun, kulminasi utama tidak dapat dijadikan satu-satunya penjelasan atas tingginya suhu udara.
Ketika Matahari berada di posisi tertinggi, sinar Matahari dapat jatuh lebih tegak pada permukaan tertentu. Meski demikian, suhu udara dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk tutupan awan, kelembapan, angin, kondisi permukaan, serta karakteristik atmosfer.
Kondisi langit cerah dengan tutupan awan yang minim memungkinkan lebih banyak radiasi Matahari mencapai permukaan Bumi. Sementara itu, kondisi atmosfer yang kering dapat memengaruhi tingkat kenyamanan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.
Faktor seperti El Niño juga perlu dinilai berdasarkan pemantauan iklim dan keterangan resmi BMKG. Status atau intensitas fenomena tersebut tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan cuaca panas di suatu daerah.
Karena itu, masyarakat tetap perlu membedakan antara fenomena astronomi yang berkaitan dengan posisi Matahari dan kondisi meteorologis yang menentukan suhu serta cuaca sehari-hari.
Tips Mengamati Hari Tanpa Bayangan dengan Aman
Masyarakat dapat melakukan pengamatan sederhana di rumah, sekolah, halaman, atau lapangan terbuka dengan menggunakan benda tegak, seperti tongkat atau tiang.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan:
- Siapkan tongkat atau benda tegak di permukaan tanah yang relatif rata.
- Amati panjang dan arah bayangan beberapa menit sebelum waktu kulminasi yang tercantum dalam jadwal wilayah.
- Bandingkan perubahan bayangan menjelang dan sesudah waktu kulminasi.
- Pilih lokasi yang aman dan tidak mengganggu lalu lintas atau aktivitas orang lain.
- Gunakan pelindung dari paparan Matahari, seperti topi, dan cukupi kebutuhan air minum ketika berada di luar ruangan.
Pengamatan tidak perlu dilakukan dengan menatap Matahari secara langsung. Paparan sinar Matahari langsung pada mata dapat membahayakan penglihatan.
Fenomena Hari Tanpa Bayangan
Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Jawa Timur berlangsung secara bergantian pada 11–14 Oktober 2026, mulai dari wilayah Madura dan utara Jawa Timur, berlanjut ke Surabaya dan sekitarnya, kemudian ke kawasan Kediri, Pasuruan, Malang, hingga Banyuwangi dan Pacitan.
Waktu kulminasi utama berbeda di setiap lokasi, dengan jadwal yang umumnya berada pada rentang pukul 11.00–11.21 WIB. Fenomena ini merupakan peristiwa astronomi yang dapat diamati melalui perubahan panjang bayangan benda tegak.
Masyarakat yang ingin menyaksikannya dapat menggunakan jadwal sesuai wilayah masing-masing dan tetap mengutamakan keselamatan selama beraktivitas di bawah terik Matahari.
Tips Pengamatan:
Letakkan benda tegak pada permukaan rata di bawah terik matahari langsung tepat pada menit yang dijadwalkan. Efek berlangsung sekitar 1 hingga 2 menit

Ano Bano merupakan jurnalis investigasi yang fokus pada isu hukum, hankamtibmas, dan keterbukaan informasi publik. Memiliki sertifikasi Kompetensi Wartawan Dewan Pers, Investigasi Tempo Institue. Berkomitmen menyajikan karya jurnalisme Profesional
WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Diterbitkan pertama kali oleh Ano Bano Jam 16:22 Tanggal 11 Oktober 2026 di Warta Bela Negara - WBN.
DARI REDAKSI
Kegiatan jurnalistik mengacu pada UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, Berbadan Hukum : Pasal 1 angka 2, Pasal 9 ayat (2) , termasuk Pasal 4 ayat (3) kemerdekaan pers, Pasal 6 peranan pers, dan Pasal 8 perlindungan wartawan menjalankan tugas dan Peraturan Dewan Pers No. 5/Peraturan-DP/IV/2008 tentang Perlindungan Profesi Wartawan.
Catatan : Dalam Melaksanakan Tugas Wartawan Kami Dilengkapi ID Card Resmi dan memilki Barcode yang terhubung pada database atau teregistrasi di box redaksi
Tim Redaksi memeriksa setiap artikel yang dipublikasi sesuai : Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.
SANGAHAN
Pembaca berhak memperoleh informasi yang tepat, akurat dan benar serta dapat menggunakan hak jika ada keberatan dan koreksi melalui : Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai ketentuan UU Pers dan mekanisme yang berlaku.
Penerbit
Warta Bela Negara - WBN
Situs: wartabelanegara.com
Legal
Danakirti Media News
Nomor: AHU-0017454.AH.01.01.
Bisnis
Danakirti Media Groups
Nomor: AHU-0005878.AH.01.01-2022
NIB: 2801220007313
NPWP: 63.108.079.3-002.000
KBLI: 58130, 63122, 63912


