JAKARTA, 13 Agustus 2026 – Selat Hormuz masih menjadi jalur vital bagi perdagangan energi dunia meski gangguan berkepanjangan mendorong negara-negara Teluk mencari rute alternatif. Arab Saudi dinilai paling siap mengalihkan ekspor minyak, sementara Uni Emirat Arab masih menghadapi keterbatasan kapasitas dan risiko keamanan.
Selat Hormuz Tetap Jadi Jalur Vital Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit antara Iran dan Oman yang menjadi salah satu titik paling penting dalam perdagangan minyak global. Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi melintasi selat tersebut setiap hari.
Gangguan berkepanjangan di kawasan itu kemudian memaksa negara-negara pengekspor energi mencari jalur lain. Kondisi tersebut semakin mendesak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (10/8) menyatakan Angkatan Laut AS telah menguasai Selat Hormuz dan menyapu ranjau di kawasan tersebut.
Sebelumnya, pejabat Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai sejumlah tuntutan Teheran dipenuhi, termasuk terkait kesepakatan kerangka kerja pada Juni dan kompensasi atas dugaan pelanggaran.
Arab Saudi Berhasil Alihkan Ekspor Minyak
Arab Saudi menjadi salah satu negara yang paling mampu mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Negara tersebut memanfaatkan East-West Pipeline untuk mengalirkan minyak mentah dari wilayah timur menuju Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.
Jalur tersebut memungkinkan minyak Arab Saudi dikirim ke pasar internasional tanpa melewati Selat Hormuz. Data PortWatch menunjukkan perubahan besar pada arus pengiriman selama April dan Mei.
Pengiriman kargo menuju Arab Saudi dari pesisir Teluk turun dari 47,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi sekitar 6,3 juta ton. Sebaliknya, ekspor melalui Laut Merah meningkat dari 29,6 juta ton menjadi 54,8 juta ton.
Tambahan sekitar 25,2 juta ton melalui Laut Merah tersebut menggantikan sekitar 61 persen volume yang hilang dari kawasan Teluk Persia. Kondisi itu menunjukkan bahwa East-West Pipeline bukan hanya jalur cadangan, tetapi juga berperan penting dalam menjaga ekspor minyak Arab Saudi.
Laut Merah Tetap Mengandung Risiko
Meski demikian, jalur Laut Merah bukan tanpa masalah. Kapal yang menuju Terusan Suez harus melewati Bab al-Mandab, kawasan yang sebelumnya berulang kali menjadi sasaran serangan kelompok Houthi.
Artinya, menghindari Selat Hormuz dapat membuat pelaku perdagangan energi bergantung pada titik rawan lainnya. Ancaman keamanan tersebut juga dapat meningkatkan biaya pengiriman dan premi asuransi kapal.
UEA Masih Menghadapi Keterbatasan
Uni Emirat Arab sebenarnya memiliki infrastruktur untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Abu Dhabi Crude Oil Pipeline atau ADCOP menghubungkan fasilitas minyak di Habshan dengan Fujairah di pesisir timur UEA, yang berada di luar Selat Hormuz.
Fujairah dan Khor Fakkan juga memiliki fasilitas pelabuhan laut dalam. Namun, keberadaan infrastruktur tersebut belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan fungsi pelabuhan-pelabuhan besar di kawasan Teluk Persia.
Selain persoalan kapasitas, faktor keamanan menjadi tantangan utama. Posisi Fujairah masih relatif dekat dengan Iran. Selama konflik berlangsung, pelabuhan tersebut dilaporkan menghadapi serangan, sementara sejumlah kapal di sekitar pesisir timur UEA juga terkena dampak.
Data PortWatch menunjukkan lalu lintas di pesisir Teluk Persia UEA selama April dan Mei turun menjadi sekitar 12 juta ton dari 68,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pengiriman melalui pelabuhan alternatif UEA juga turun dari 13,7 juta ton menjadi 6,3 juta ton.
Pipa Baru Belum Bisa Menjawab Krisis
Sejumlah pemerintah dan pakar energi kini membahas pembangunan infrastruktur baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Salah satu gagasan yang muncul adalah pembangunan jaringan pipa yang menghubungkan Irak dengan Oman atau Yordania.
Ekonom Hassan Mansour memperkirakan proyek pipa Basra-Aqaba membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun dengan biaya sekitar US$8 miliar hingga US$10 miliar.
Sementara itu, jaringan Basra-Oman diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$10 miliar hingga US$15 miliar. Ada pula gagasan jalur yang menghubungkan Irak, Kuwait, UEA dan Oman.
Namun, seluruh proyek tersebut tidak dapat memberikan solusi cepat terhadap gangguan pasokan energi saat ini. Pembangunan pipa lintas negara membutuhkan investasi besar, kesepakatan politik, serta waktu bertahun-tahun.
Rute Tanjung Harapan Lebih Mahal
Alternatif lain adalah mengirim kapal melalui jalur yang mengelilingi Afrika dan melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Namun, rute tersebut jauh lebih panjang dan dapat meningkatkan biaya transportasi hingga ratusan ribu dolar untuk setiap perjalanan.
Karena itu, jalur tersebut lebih tepat menjadi pilihan darurat dibandingkan pengganti permanen Selat Hormuz.
Israel Tawarkan Jalur Energi ke Laut Mediterania
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mendorong gagasan pembangunan jalur alternatif melalui Semenanjung Arab menuju Israel dan selanjutnya ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Mediterania.
Menurut gagasan tersebut, jaringan pipa minyak dan gas yang bergerak ke arah barat dapat mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz maupun Bab al-Mandab.
Namun, rencana tersebut membutuhkan kerja sama regional yang kompleks. Faktor keamanan, politik, investasi dan hubungan antarnegara menjadi tantangan besar sebelum jaringan tersebut dapat diwujudkan.
Qatar, Kuwait, dan Bahrain Paling Rentan
Berbeda dengan Arab Saudi dan UEA, Qatar, Kuwait dan Bahrain tidak memiliki garis pantai di luar kawasan Teluk Persia. Kondisi ini membuat ketiga negara tersebut memiliki pilihan yang jauh lebih terbatas untuk menghindari Selat Hormuz.
Jalur alternatif bagi negara-negara tersebut harus melibatkan negara lain, seperti Irak, Yordania, Oman atau bahkan Israel. Karena itu, ketergantungan terhadap Selat Hormuz kemungkinan masih akan bertahan dalam jangka pendek.
Analis politik Rahman Ghahremanpour menilai pembangunan pipa memang dapat mengurangi dampak gangguan Hormuz. Namun, infrastruktur tersebut tetap rentan menjadi sasaran serangan selama konflik berlangsung.
Selat Hormuz Masih Sulit Digantikan
Berbagai alternatif menunjukkan bahwa negara-negara Teluk memiliki sejumlah pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Namun, kapasitas jalur yang tersedia saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan volume energi yang biasanya melewati selat tersebut.
Selain pipa, pelabuhan dan terminal juga harus diperhitungkan. Infrastruktur tersebut dapat menjadi sasaran serangan sehingga jalur alternatif belum tentu menjamin keamanan pasokan.
Situasi ini membuat Selat Hormuz tetap sulit digantikan dalam waktu dekat. Arab Saudi memang menunjukkan bahwa sebagian besar ekspor dapat dialihkan melalui jalur lain, tetapi pengalaman UEA menunjukkan bahwa kapasitas dan keamanan menjadi faktor penting.
Bagi Iran, mempertahankan gangguan terhadap Selat Hormuz terlalu lama juga membawa risiko politik. Jika pasar global menilai gangguan tersebut bukan lagi sementara, negara-negara lain berpotensi membentuk koalisi yang lebih luas untuk menghadapi Teheran.
Dengan demikian, pencarian jalur alternatif kemungkinan akan terus berlangsung. Namun, untuk saat ini, tidak ada satu pun rute yang mampu sepenuhnya menggantikan peran strategis Selat Hormuz dalam perdagangan energi global.
Penulis : Amanda
WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Selat Hormuz Sulit Digantikan, Ini Jalur Alternatif Negara Teluk
Dibuat oleh Amanda pada 19:53 WIB, 13 Agustus 2026
Konten artikel berita ini telah melalui proses verifikasi sesuai standar jurnalistik oleh Tim Redaksi untuk memastikan informasi yang akurat dan berimbang.
INFORMASI HUKUM & ETIKA JURNALISTIK:
Karya jurnalistik ini diproduksi dengan tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.




