InfotainmentUMKMUtama

RANS Carnival Sleman Diboikot, Musisi Mundur dan UMKM Terdampak

Ano Bano
0
×

RANS Carnival Sleman Diboikot, Musisi Mundur dan UMKM Terdampak

Sebarkan artikel ini
RANS Carnival Sleman Diboikot, Musisi dan UMKM Mundur
RANS Carnival Sleman Diboikot, Musisi dan UMKM Mundur

RANS Carnival Sleman Diboikot, Enam Musisi Mundur dan 95 Persen UMKM Terdampak


SLEMAN, 1 November 2026 – Gelombang boikot terhadap RANS Carnival 2026 di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berdampak pada mundurnya sejumlah musisi dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sedikitnya enam pengisi acara dilaporkan membatalkan penampilan, sementara sekitar 95 persen tenant kuliner disebut memilih menarik diri.

Menghadapi situasi tersebut, manajemen RANS Carnival menyampaikan klarifikasi dan memutuskan menyesuaikan konsep penyelenggaraan agar kegiatan tetap berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.

RANS Carnival Sleman Ditinggalkan Musisi dan UMKM

Penyelenggaraan RANS Carnival menjadi sorotan setelah muncul seruan boikot di media sosial yang berkaitan dengan kontroversi kehadiran Raffi Ahmad dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada 29 Oktober 2026.

Kritik terhadap kegiatan deklarasi tersebut berkembang menjadi penolakan terhadap acara yang terafiliasi dengan RANS Entertainment. Sejumlah warganet kemudian mengajak masyarakat untuk tidak menghadiri kegiatan RANS Carnival di Sleman.

Dampaknya terlihat menjelang pelaksanaan festival. Sejumlah musisi dan pelaku UMKM yang sebelumnya telah masuk dalam daftar peserta memilih membatalkan keikutsertaan mereka.

Berdasarkan laporan Suara.com, sedikitnya enam pengisi acara yang mengundurkan diri adalah Guyon Waton, Masdddho, OM Wawes, Tipe-X, Fourtune, dan RFRNDS.

Sementara itu, laporan sejumlah media sebelumnya menyebut empat nama yang lebih dahulu menjadi sorotan, yakni Guyon Waton, Masdddho, OM Wawes, dan Tipe-X.

Keputusan mundur disampaikan melalui akun media sosial masing-masing dengan pertimbangan situasi dan kondisi masyarakat, keamanan, kenyamanan, serta respons publik terhadap polemik yang berkembang.

Grup musik Tipe-X bahkan mengumumkan pengunduran diri melalui unggahan Instagram pada Sabtu (31/10/2026) dengan poster acara bertanda silang merah dan tulisan, “Kita mundur dari acara ini. Sampai jumpa di lain pesta.”

OM Wawes, grup musik asal Yogyakarta, juga menyampaikan keputusan serupa. Vokalisnya, Gaseng, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan perkembangan situasi masyarakat setempat.

Suasana RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo Terpantau Sepi

Gelombang pengunduran diri tersebut turut memengaruhi suasana penyelenggaraan RANS Carnival.

Berdasarkan laporan pantauan lapangan yang dipublikasikan IDN Times, area festival pada Sabtu (31/10/2026) sekitar pukul 11.30 WIB belum menunjukkan aktivitas pengunjung yang ramai.

Sejumlah tenda dan stan makanan terlihat tidak beroperasi, sedangkan panggung utama masih digunakan untuk persiapan dan pengecekan suara.

Dari sejumlah stan kuliner yang disediakan, hanya sekitar tiga hingga empat tenant yang terlihat bertahan untuk berjualan pada waktu pemantauan tersebut.

Salah seorang pedagang bernama Ayu mengaku tetap mengikuti kegiatan karena telah berkomitmen kepada penyelenggara. Namun, jumlah pembeli yang datang sejak pagi masih terbatas. Bahkan, sebagian transaksi berasal dari sesama pedagang.

Kondisi tersebut memperlihatkan dampak nyata dari polemik yang sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial terhadap aktivitas ekonomi di lokasi festival.

Sekitar 95 Persen Tenant UMKM Dilaporkan Mundur

Dampak pengunduran diri peserta juga dirasakan pelaku UMKM yang sebelumnya telah mempersiapkan produk, bahan baku, perlengkapan, serta kebutuhan operasional untuk mengikuti festival selama dua hari.

Laporan Pada Minggu (1/11/2026) menyebut sekitar 95 persen tenant kuliner lokal yang semula akan mengikuti kegiatan dilaporkan memilih membongkar stan dan menarik diri.

Beberapa usaha yang mengumumkan pembatalan keikutsertaan antara lain Roti Gembong Gedhe, Jeruk Lokal Maguwoharjo, dan Cuann king.

Jeruk Lokal Maguwoharjo dilaporkan telah membeli bahan baku dalam jumlah besar sebelum akhirnya memutuskan kembali berjualan di lokasi usaha sebelumnya.

Sementara itu, Roti Gembong Gedhe mengumumkan pengunduran diri sebagai tenant makanan dan minuman. Produk yang telanjur dipersiapkan kemudian dialihkan untuk didistribusikan ke sejumlah cabang.

Kerugian Modal dan Persediaan Dagangan

Pengunduran diri tersebut membuat sebagian pelaku UMKM menghadapi risiko kerugian akibat modal yang sudah dikeluarkan.

Komponen pengeluaran yang terdampak meliputi:

  1. Bahan baku dan persediaan: Pembelian bahan makanan dan minuman dalam jumlah besar untuk memenuhi perkiraan kebutuhan pengunjung selama dua hari.
  2. Biaya perlengkapan stan: Pengeluaran untuk tenda, sarana jualan, peralatan, serta kebutuhan penataan tempat.
  3. Biaya operasional: Tenaga kerja, pengangkutan barang, persiapan produk, kemasan, dan kebutuhan pendukung lainnya.
  4. Potensi produk tidak terjual: Bahan makanan segar dan produk dengan masa simpan terbatas menghadapi risiko tidak terserap pasar.

Sejumlah laporan menyebut kerugian yang dialami beberapa tenant dapat mencapai Rp5 juta hingga belasan juta rupiah. Namun, angka tersebut masih berupa estimasi kerugian per pelaku usaha dan belum tersedia data resmi mengenai total kerugian seluruh UMKM yang terdampak.

Salah satu gambaran besarnya persiapan pedagang terlihat dari laporan Suara.com mengenai produsen donat yang telah menyiapkan sekitar 2.000 buah untuk dipasarkan selama festival.

Besarnya jumlah produksi tersebut menunjukkan bahwa pembatalan keikutsertaan dan minimnya pembeli dapat menimbulkan persoalan serius bagi pedagang yang telah mengeluarkan modal sebelum kegiatan berlangsung.

Warga Yogyakarta Bergerak Membantu UMKM

Di tengah polemik RANS Carnival, muncul gerakan solidaritas masyarakat Yogyakarta untuk membantu pelaku UMKM yang telanjur memproduksi dan menyiapkan dagangan.

Gerakan tersebut dikenal dengan narasi “Warga Bantu Warga” dan seruan “Bantu Larisin” yang berkembang melalui media sosial X, Threads, serta Instagram.

Masyarakat mengajak warga untuk membeli dan memborong produk milik pedagang yang terdampak, terutama mereka yang sudah mengeluarkan modal besar tetapi kehilangan kesempatan berjualan di lokasi festival.

Berdasarkan Informasi sejumlah usaha lokal yang mendapat dukungan warga, di antaranya Donutsbun, Kalapaa, Jeruk Lokal Maguwoharjo, Cuann king, Brokiss Jogja, dan Ayam Tetanggamu.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah Donutsbun  yang dilaporkan berhasil mendistribusikan lebih dari 2.000 donat hasil produksinya.

Gerakan tersebut menjadi bentuk dukungan langsung masyarakat terhadap keberlangsungan usaha kecil yang terdampak polemik penyelenggaraan festival.

Manajemen RANS Carnival Sampaikan Klarifikasi Resmi

Menghadapi pengunduran diri sejumlah musisi dan tenant UMKM, manajemen RANS Carnival bersama RANS Entertainment akhirnya menyampaikan pernyataan resmi melalui akun Instagram @ranscarnivalofficial.

Pernyataan tersebut juga diunggah ulang melalui akun Instagram Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, @raffinagita1717, pada Sabtu (31/10/2026).

Dalam keterangannya, manajemen mengaku memahami kekhawatiran dan perhatian masyarakat terhadap situasi yang berkembang.

“Kami memahami perhatian dan kekhawatiran yang muncul terkait situasi belakangan ini. Situasi yang terjadi tentunya merupakan hal yang tidak pernah kami harapkan,” demikian pernyataan manajemen.

Pihak penyelenggara menjelaskan bahwa sejak awal RANS Carnival dirancang sebagai kegiatan hiburan gratis bagi masyarakat sekaligus ruang kolaborasi bagi musisi, kreator, pekerja seni, dan pelaku UMKM.

Manajemen menyebut kegiatan tersebut bertujuan memberikan kesempatan kepada para pekerja kreatif untuk menampilkan karya serta memperkenalkan produk kepada masyarakat.

Konsep Festival Disederhanakan

Merespons perkembangan situasi dan pengunduran diri sejumlah peserta, manajemen menyatakan tetap mengupayakan agar RANS Carnival berlangsung dengan konsep yang lebih sederhana.

Dalam pernyataan resminya, penyelenggara menyampaikan:

“Dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat ini, kami terus mengupayakan agar RANS Carnival dapat tetap diselenggarakan dengan konsep yang lebih sederhana, dengan tetap melibatkan pekerja seni, pelaku UMKM, dan komunitas kreatif setempat.”

Manajemen berharap kegiatan tersebut tetap dapat menjadi hiburan bagi masyarakat sekaligus memberikan kesempatan kepada pekerja seni, pelaku UMKM, dan komunitas kreatif untuk tumbuh bersama.

Pernyataan itu menegaskan bahwa penyelenggara berupaya melanjutkan kegiatan dengan format yang disesuaikan, bukan membatalkan seluruh rangkaian acara.

Polresta Sleman Bantah Isu Pengerahan Massa Berbayar

Di tengah polemik RANS Carnival, beredar pula pesan berantai melalui WhatsApp yang mencatut nama Kapolresta Sleman AKBP Dhimas Prasetyo.

Pesan tersebut memuat informasi mengenai dugaan ajakan mengumpulkan warga untuk menghadiri kegiatan bazar UMKM di Stadion Maguwoharjo, dengan kuota sekitar 100 orang per kalurahan serta iming-iming uang belanja Rp50.000 bagi peserta yang hadir.

Informasi tersebut kemudian memunculkan dugaan adanya mobilisasi masyarakat untuk meramaikan acara setelah gelombang boikot berkembang di media sosial.

Menanggapi kabar tersebut, Kapolresta Sleman AKBP Dhimas Prasetyo membantah adanya pengerahan massa maupun pembagian uang belanja sebagaimana disebutkan dalam pesan berantai.

“Saya tegaskan, kami dari kepolisian hanya mengamankan lokasi kegiatan, bukan seperti yang dimaksud pengerahan massa untuk datang ke lokasi,” jelas Dhimas, Sabtu (31/10/2026).

Kasi Humas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro, juga menegaskan bahwa kepolisian tidak pernah melakukan pengerahan massa untuk meramaikan kegiatan tersebut.

“Perlu kami tegaskan, Polresta Sleman tidak pernah melakukan pengerahan massa. Yang dilakukan adalah pengerahan personel untuk pengamanan kegiatan masyarakat,” ujar Argo.

Menurut kepolisian, kehadiran personel di lokasi merupakan bagian dari tugas pengamanan berdasarkan permohonan penyelenggara, guna memastikan kegiatan masyarakat berlangsung aman, tertib, dan kondusif.

Dengan demikian, informasi mengenai pengerahan massa berbayar dan pembagian uang Rp50.000 tersebut merupakan isu yang telah dibantah pihak kepolisian, bukan fakta yang dapat dipastikan hanya berdasarkan pesan berantai.

Kontroversi Raffi Ahmad Menjadi Latar Belakang Seruan Boikot

Polemik RANS Carnival tidak dapat dilepaskan dari kritik terhadap kehadiran Raffi Ahmad dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut menuai pertanyaan dari sebagian masyarakat karena berlangsung tidak lama setelah demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat pada momentum peringatan Sumpah Pemuda.

Sorotan semakin berkembang setelah muncul pengakuan seorang peserta deklarasi yang menyatakan dirinya bukan mahasiswa dari perguruan tinggi yang atribut almamaternya dikenakan saat kegiatan berlangsung.

Pengakuan tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai proses perekrutan peserta dan penyelenggaraan deklarasi.

Namun, pengakuan seorang peserta tidak dapat dijadikan bukti bahwa seluruh peserta merupakan massa bayaran ataupun bahwa Raffi Ahmad terlibat dalam proses perekrutan.

Raffi Ahmad kemudian memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya. Ia menyatakan kehadirannya dalam kegiatan deklarasi tersebut sebatas memenuhi undangan yang baru diterimanya pada malam sebelum acara.

Raffi juga menegaskan tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan rangkaian acara dan menyampaikan penghormatannya terhadap masyarakat, khususnya mahasiswa, yang menyampaikan aspirasi.

Meski demikian, kritik dan seruan boikot terhadap kegiatan yang berkaitan dengan RANS Entertainment terus berkembang hingga berdampak pada penyelenggaraan RANS Carnival di Sleman.

Dampak Cancel Culture terhadap Industri Event dan UMKM

Peristiwa RANS Carnival 2026 memperlihatkan bagaimana respons masyarakat di media sosial dapat berkembang menjadi dampak nyata terhadap penyelenggaraan kegiatan hiburan dan aktivitas ekonomi lokal.

Pengunduran diri musisi, penarikan tenant UMKM, serta berkurangnya aktivitas pengunjung menjadi sejumlah perkembangan yang menyertai festival tersebut.

Di satu sisi, musisi dan pelaku usaha memiliki pertimbangan masing-masing dalam menentukan keterlibatan mereka pada sebuah kegiatan. Di sisi lain, pedagang kecil yang telah mengeluarkan modal menghadapi risiko ekonomi ketika situasi acara berubah menjelang pelaksanaan.

Peristiwa ini juga memperlihatkan munculnya solidaritas warga yang berupaya membantu pedagang terdampak melalui pembelian langsung produk mereka.

RANS Carnival dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 31 Oktober hingga 1 November 2026. Hingga Minggu malam, perkembangan penyelenggaraan dan dampak ekonomi secara keseluruhan masih perlu dilihat berdasarkan keterangan resmi manajemen serta pendataan langsung terhadap para pelaku UMKM.

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Diterbitkan pertama kali oleh Ano Bano pukul 00:56, tanggal 02 November 2026 di Warta Bela Negara - WBN.

CATATAN REDAKSI

Pemberitaan dilaksanakan dengan mengacu pada UU Pers, kaidah jurnalistik, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Apabila terdapat kekeliruan atau keberatan atas pemberitaan, pembaca dapat mengajukan hak jawab dan koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.

PENERBIT

Warta Bela Negara - WBN (wartabelanegara.com)

Penerbit PT Danakirti Media Groups. NIB: 2801220007313 · KBLI: 58130, 63122, 63912.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas SiliwangiJenderal Suyudi Ario Seto - Menjadi Polisi Adalah Kehormatan