Lingkungan HidupUtama

Hiu Paus 9 Meter Terdampar di Parangkusumo, Mati dan Dikubur Usai Nekropsi

Ano Bano
0
×

Hiu Paus 9 Meter Terdampar di Parangkusumo, Mati dan Dikubur Usai Nekropsi

Sebarkan artikel ini
Hiu Paus Parangkusumo Mati, Hasil Nekropsi Jadi Sorotan
Hiu Paus Parangkusumo Mati, Hasil Nekropsi Jadi Sorotan

BANTUL, 19 Oktober 2026 – Seekor hiu paus (*Rhincodon typus*) berukuran sekitar sembilan meter terdampar di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (18/10/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.

Satwa laut tersebut sempat ditemukan dalam kondisi hidup, tetapi upaya petugas dan warga untuk mengembalikannya ke tengah laut gagal akibat ukuran tubuh yang besar dan kondisi air laut yang surut.

Hiu paus itu akhirnya mati di pantai, menjalani pemeriksaan nekropsi oleh tim dokter hewan, kemudian dikuburkan menggunakan bantuan dua unit ekskavator. Penyebab pasti kematian dan faktor yang membuat satwa tersebut terdampar masih diteliti.

Hiu Paus Ditemukan Hidup pada Minggu Pagi

Penemuan hiu paus di Pantai Parangkusumo mengundang perhatian warga, wisatawan, dan petugas penyelamat. Satwa berukuran besar tersebut pertama kali diketahui warga sekitar pukul 05.00 WIB pada Minggu (18/10/2026).

Ketika ditemukan, hiu paus itu masih hidup dan berada di kawasan perairan dangkal dekat bibir pantai. Keberadaannya segera dilaporkan kepada petugas agar upaya penyelamatan dapat dilakukan sebelum kondisinya memburuk.

Panjang tubuh hiu paus tersebut dilaporkan mencapai sekitar sembilan meter dalam dokumentasi pengukuran dan pemeriksaan. Sejumlah pemberitaan awal menyebut ukuran sekitar enam hingga tujuh meter, sehingga terdapat perbedaan angka dalam laporan awal kejadian.

Ukuran tubuh yang besar menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan satwa tersebut.

Upaya Penyelamatan Terkendala Air Laut Surut

Petugas gabungan bersama masyarakat berupaya mengembalikan hiu paus ke perairan yang lebih dalam. Penanganan melibatkan unsur kepolisian, tim SAR, Satlinmas Rescue Istimewa, Satgas Jogo Segoro, relawan, dan masyarakat sekitar.

Koordinator Satgas Linmas Jogo Segoro, Muhammad Arief Nugraha, menjelaskan bahwa upaya mendorong hiu tersebut kembali ke arah laut tidak berhasil karena kondisi pantai sedang surut.

Selain ukuran tubuh yang besar, kondisi perairan yang dangkal membuat proses penyelamatan semakin sulit. Tenaga petugas dan warga tidak cukup untuk menggeser tubuh satwa tersebut menuju perairan yang lebih dalam.

Upaya penyelamatan berlangsung sejak pagi. Namun, hiu paus itu akhirnya mati sebelum berhasil dikembalikan ke habitatnya.

Kejadian tersebut menjadi perhatian karena satwa ditemukan masih hidup, tetapi tidak berhasil diselamatkan dalam proses evakuasi.

Lima Dokter Hewan Lakukan Nekropsi

Setelah hiu paus dinyatakan mati, tim dokter hewan melakukan nekropsi atau pemeriksaan melalui pembedahan bangkai untuk mengetahui kondisi organ dan menelusuri kemungkinan penyebab kematian.

Dokter hewan Dwi Suprapti dari Yayasan Sea Life Indonesia menjelaskan bahwa nekropsi dilakukan oleh lima dokter hewan dengan bantuan petugas lapangan dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pemeriksaan dilakukan dengan membedah tubuh hiu paus, termasuk bagian lambung. Tim juga mengambil sejumlah sampel organ untuk menjalani pengujian laboratorium.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa kondisi tubuh hiu paus tersebut tidak memperlihatkan tanda penyakit yang mencolok secara kasatmata. Namun, kondisi itu belum cukup untuk menyimpulkan penyebab kematian.

Penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang telah diambil.

Lambung Berisi Ikan, Udang Rebon, dan Teri

Salah satu temuan dalam nekropsi adalah isi lambung yang terdiri atas ikan, udang rebon, dan ikan teri yang belum tercerna sepenuhnya.

Menurut Dwi Suprapti, kondisi tersebut menunjukkan bahwa satwa itu kemungkinan baru saja makan sebelum ditemukan terdampar.

Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam pemeriksaan kondisi terakhir hiu paus. Namun, isi lambung yang masih berupa makanan tidak serta-merta membuktikan bahwa aktivitas mencari makan menjadi penyebab satwa tersebut masuk ke perairan dangkal.

Untuk mengetahui apakah terdapat gangguan kesehatan, infeksi, paparan zat tertentu, atau faktor lain yang berhubungan dengan kematian, diperlukan pemeriksaan lanjutan terhadap sampel organ.

Hingga informasi yang tersedia pada 19 Oktober 2026, belum ada hasil laboratorium yang memastikan penyebab kematian hiu paus tersebut.

Bangkai Hiu Paus Dikuburkan dengan Dua Ekskavator

Setelah proses nekropsi selesai, bangkai hiu paus tidak dikembalikan ke laut. Satwa tersebut dikuburkan di sekitar kawasan Pantai Parangkusumo.

Ukuran tubuhnya yang mencapai sekitar sembilan meter membuat pemindahan dan penguburan tidak memungkinkan dilakukan secara manual. Petugas menggunakan dua unit alat berat berupa ekskavator untuk membantu proses penggalian dan pemindahan bangkai.

Penguburan dilakukan sebagai bagian dari penanganan bangkai satwa berukuran besar yang telah mati di kawasan pantai.

Langkah tersebut juga diperlukan untuk mengantisipasi pembusukan yang dapat menimbulkan bau menyengat dan mengganggu lingkungan sekitar.

Penyebab Hiu Paus Terdampar Belum Diketahui

Peristiwa di Pantai Parangkusumo menyisakan pertanyaan mengenai faktor yang menyebabkan hiu paus tersebut terdampar di perairan dangkal.

Kondisi air laut yang surut diketahui menjadi kendala dalam upaya penyelamatan. Namun, keadaan tersebut tidak otomatis menjelaskan mengapa hiu paus awalnya masuk atau berada di kawasan pantai.

Sejumlah faktor dapat dipertimbangkan dalam kajian ilmiah mengenai satwa laut yang terdampar, termasuk kondisi kesehatan, perubahan lingkungan perairan, arus, dan perilaku mencari makan. Akan tetapi, faktor-faktor tersebut masih merupakan kemungkinan umum dan belum terbukti menjadi penyebab dalam kejadian ini.

Dugaan mengenai gangguan navigasi, perubahan suhu laut, aktivitas mencari makan, maupun pengaruh cahaya dari kegiatan manusia juga belum dapat dipastikan tanpa data dan hasil penelitian yang relevan.

Karena itu, penentuan penyebab terdamparnya hiu paus di Parangkusumo harus dibedakan dari hasil pemeriksaan terhadap penyebab kematiannya. Kedua persoalan tersebut saling berkaitan, tetapi tidak selalu memiliki penyebab yang sama.

Menunggu Hasil Pemeriksaan Lanjutan

Hiu paus merupakan spesies ikan terbesar di dunia dan memiliki peran penting dalam ekosistem laut. Penemuan satwa ini dalam kondisi terdampar menjadi perhatian terhadap upaya perlindungan dan penanganan satwa laut berukuran besar.

Dalam kasus Parangkusumo, pemeriksaan nekropsi telah memberikan informasi awal mengenai kondisi tubuh dan isi lambung satwa. Namun, hasil tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai penyebab kematian maupun faktor yang membuatnya terdampar.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel organ menjadi salah satu informasi yang perlu ditunggu untuk mengetahui apakah terdapat indikasi gangguan kesehatan atau faktor lain.

Hingga Senin, 19 Oktober 2026, hiu paus tersebut telah dikuburkan setelah menjalani nekropsi. Penyebab pasti kematian dan alasan satwa itu terdampar di Pantai Parangkusumo belum dapat dipastikan berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dipublikasikan.

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Diterbitkan pertama kali oleh Ano Bano pukul 17:39, tanggal 19 Oktober 2026 di Warta Bela Negara - WBN.

CATATAN REDAKSI

Pemberitaan dilaksanakan dengan mengacu pada UU Pers, kaidah jurnalistik, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Apabila terdapat kekeliruan atau keberatan atas pemberitaan, pembaca dapat mengajukan hak jawab dan koreksi sesuai ketentuan yang berlaku.

PENERBIT

Warta Bela Negara - WBN (wartabelanegara.com)

Legalitas oleh PT Danakirti Media Groups. NIB: 2801220007313 · KBLI: 58130, 63122, 63912.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas SiliwangiJenderal Suyudi Ario Seto - Menjadi Polisi Adalah Kehormatan