Rubrik

Penyelam KM Virgo: 31 Menit Menembus Bangkai Kapal

FAAL Redaksi
×

Penyelam KM Virgo: 31 Menit Menembus Bangkai Kapal

Sebarkan artikel ini
Tim penyelam gabungan TNI AL dan Basarnas melakukan operasi evakuasi bawah air di dalam bangkai kapal KM Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Laut Jawa
Dokumentasi operasi penyelaman KM Virgo Transport 8. Beberapa bagian gambar sengaja disamarkan demi menghormati privasi korban dan keluarga

MASALEMBO, 27 SEPTEMBER 2026 — Penyelam KM Virgo Transport 8 harus masuk ke bangkai kapal yang terbalik di dasar Laut Jawa untuk mencari korban yang masih terjebak. Dalam kegelapan, arus kuat, visibilitas terbatas dan struktur kapal yang berbahaya, setiap penyelaman dilakukan singkat, terukur, dan mengutamakan keselamatan penyelam.

Di Balik 31 Menit Penyelaman KM Virgo

Operasi penyelaman terhadap bangkai KM Virgo Transport 8 bukan sekadar turun ke dasar laut kemudian mencari korban.

Tim harus terlebih dahulu menentukan bagian kapal yang akan dimasuki, membuka akses, menyisir ruangan, menemukan korban, kemudian mengeluarkannya dari bangkai kapal tanpa membahayakan penyelam berikutnya.

Gambaran mengenai beratnya pekerjaan tersebut terlihat jelas pada operasi hari ke-13, Jumat, 25 September 2026.

Dalam satu rangkaian penyelaman, delapan penyelam diterjunkan. Mereka terdiri atas empat prajurit Satuan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Satkoppeba) Koarmada II, tiga personel Basarnas Special Group (BSG), serta satu personel Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI).

Penyelaman tersebut berlangsung selama 31 menit, mulai pukul 09.07 hingga 09.38 WITA.

Fokus pencarian berada di bagian lambung kanan KM Virgo Transport 8, yang diduga masih menyimpan korban.

Hasilnya, lima jenazah berhasil dievakuasi, terdiri atas empat laki-laki dan satu perempuan.

Angka 31 menit tersebut menunjukkan bahwa waktu penyelam di bawah air bukan sesuatu yang bisa digunakan secara bebas. Setiap menit harus diperhitungkan karena penyelam menghadapi tekanan air, arus, jarak pandang terbatas dan struktur kapal yang telah berada dalam kondisi tidak normal.

Siapa Saja Penyelam yang Masuk ke Bangkai KM Virgo?

Operasi bawah air KM Virgo Transport 8 melibatkan beberapa unsur yang memiliki kemampuan penyelaman.

Di antaranya adalah:

  • Basarnas Special Group atau BSG;
  • Satkoppeba Koarmada II TNI AL;
  • Satkopaska Koarmada II TNI AL;
  • Dislambair;
  • POSSI;
  • unsur SAR gabungan lainnya.

Pada operasi hari ke-14, Sabtu, 26 September 2026, TNI AL menyebut sebanyak 45 penyelam gabungan dari Satkopaska dan Dislambair diterjunkan dalam rangkaian operasi. Sementara sumber lain dari unsur SAR mencatat keterlibatan personel penyelam yang lebih luas dari beberapa satuan.

Artinya, angka tersebut perlu dipahami sebagai kekuatan penyelam yang disiapkan dalam keseluruhan operasi, bukan berarti seluruh penyelam turun secara bersamaan ke bangkai kapal.

Pada 26 September, misalnya, operasi penyelaman dilakukan dalam empat gelombang atau Shorty 1 hingga Shorty 4.

Targetnya meliputi:

  • lambung kanan kapal;
  • anjungan;
  • car deck;
  • ruang tidur belakang anjungan;
  • ruang mesin.

Dua penyelaman awal digunakan untuk membuka akses dan memeriksa beberapa kompartemen. Sejumlah kaca jendela di lambung kanan harus dipecahkan agar penyelam dapat masuk.

Korban kemudian ditemukan pada Shorty 3 dan Shorty 4. Tiga jenazah ditemukan pada Shorty 3, sedangkan satu jenazah lainnya ditemukan pada Shorty 4. Total empat jenazah berhasil dievakuasi dari bangkai kapal pada hari tersebut.

Bagaimana Mekanisme Penyelaman di Bangkai Kapal?

Penyelaman pada bangkai kapal memiliki tingkat kesulitan berbeda dibandingkan penyelaman di perairan terbuka.

Penyelam tidak hanya berhadapan dengan kedalaman. Mereka juga harus menghadapi struktur kapal yang terbalik, ruang sempit, benda-benda yang menghalangi akses serta kondisi visual yang terbatas.

Karena itu, pencarian dilakukan secara bertahap.

1. Menentukan Area yang Akan Disisir

Tim tidak langsung memasuki seluruh bagian kapal.

Area pencarian ditentukan berdasarkan hasil pemetaan, kondisi bangkai kapal, informasi visual penyelaman sebelumnya dan kemungkinan keberadaan korban.

Perkembangan operasi menunjukkan bahwa penyelaman kemudian difokuskan pada bagian-bagian kapal yang diyakini masih menyimpan korban.

Pada 26 September, misalnya, tim menyasar lambung kanan, anjungan, car deck, ruang tidur belakang anjungan dan ruang mesin.

2. Membuka Akses ke Dalam Kapal

Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana penyelam masuk ke ruangan yang sebelumnya tidak dapat diakses.

Pada beberapa titik, kaca jendela kapal harus dipecahkan.

Tindakan tersebut bukan dilakukan sembarangan. Penyelam harus memastikan akses cukup aman untuk dilalui, sekaligus mempertimbangkan kondisi struktur kapal dan lingkungan di sekitarnya.

Dokumentasi operasi juga menunjukkan penyelam BSG memecahkan kaca kapal untuk membuka jalan menuju bagian dalam bangkai.

3. Masuk dan Menyisir Ruangan

Setelah akses terbuka, penyelam masuk untuk memeriksa kompartemen.

Di sinilah risiko meningkat.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin sekaligus SAR Mission Coordinator, I Putu Sudayana, menjelaskan bahwa bagian kompartemen bawah menjadi salah satu titik paling berbahaya karena penyelam tidak dapat memastikan kondisi dan kestabilan kapal ketika memasuki bagian tersebut.

Dengan posisi kapal yang telah terbalik, situasi di dalam tidak dapat diperlakukan seperti ruangan kapal dalam kondisi normal.

4. Korban Dikeluarkan dari Bangkai Kapal

Ketika korban ditemukan, proses berikutnya adalah mengeluarkannya dari ruang tempat korban berada.

Tahapan ini dapat menjadi sangat rumit apabila tubuh korban berada di ruang sempit atau terhalang bagian kapal.

Dalam beberapa operasi, penyelam harus membuka akses terlebih dahulu sebelum korban dapat dikeluarkan.

Pada 18 September, misalnya, penyelam TNI AL bersama BSG dan POSSI telah melakukan pencarian di dalam kapal dan menemukan tiga korban. Proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati karena arus laut dan perubahan kondisi cuaca.

Kenapa Penyelam Tidak Bisa Berlama-lama di Dalam Kapal?

Ada alasan keselamatan yang sangat kuat.

Bangkai KM Virgo berada di dasar laut dengan kedalaman sekitar 29 meter berdasarkan keterangan operasi penyelaman yang dilaporkan pada 17 September.

Pada saat itu, Direktur Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo menyebut kondisi cuaca memungkinkan tim menyelam dengan arus sekitar 1,4 hingga 2 knot.

Angka tersebut penting karena berbeda dengan klaim awal mengenai arus 3 hingga 8 knot.

Karena itu, untuk menjaga akurasi jurnalistik, angka 3–8 knot sebaiknya tidak digunakan sebagai angka pasti tanpa dokumen atau pernyataan resmi yang mendukungnya.

Yang jelas, arus bawah laut menjadi salah satu kendala utama.

Dalam operasi 25 September, penyelaman bahkan hanya berlangsung 31 menit dan dilakukan dengan pembagian peran antarpenyelam. Sumber peliputan operasi menyebut terdapat penyelam utama, pendamping dan personel yang melakukan pemantauan dari permukaan.

Ketika Kaca Kapal Harus Dipecahkan

Salah satu bagian paling menarik dari operasi ini adalah bagaimana penyelam harus menciptakan jalan masuk sendiri.

Video operasi yang beredar memperlihatkan penyelam BSG memecahkan kaca kapal menggunakan alat pemukul untuk membuka akses.

Tindakan tersebut dilakukan karena posisi kapal yang terbalik membuat akses ke beberapa bagian kapal menjadi sangat sulit.

Pada 26 September, pola serupa kembali dilakukan. Dalam dua gelombang penyelaman pertama, tim memecahkan sejumlah kaca jendela di lambung kanan kapal dan memeriksa beberapa kompartemen.

Belum ada korban yang ditemukan pada dua gelombang awal tersebut.

Korban baru ditemukan pada penyelaman berikutnya.

Ini menunjukkan bahwa satu kali penyelaman tidak selalu menghasilkan korban.

Tim dapat menghabiskan satu sesi hanya untuk membuka akses, memeriksa ruangan dan memastikan kondisi bangkai kapal sebelum pencarian dilanjutkan.

Jasad Korban Banyak Terjebak di Dalam Ruangan

Kesulitan semakin besar ketika penyelam menemukan korban di dalam bagian kapal yang sulit dijangkau.

Pada perkembangan operasi setelah beberapa hari penyelaman, tim SAR melaporkan banyak korban terlihat atau ditemukan berada di dalam kamar dan bagian tertentu badan kapal.

Sebagian korban juga dilaporkan masih terjebak karena kondisi struktur kapal.

Situasi tersebut membuat pencarian tidak hanya menjadi persoalan menemukan korban, tetapi juga bagaimana mengeluarkannya dengan aman.

Fokus penyelaman kemudian diarahkan pada bagian badan kapal, terutama kamar-kamar penumpang yang diduga masih menyimpan korban.

Kesaksian dari Lapangan: Apa yang Paling Berbahaya?

Hingga perkembangan terbaru yang dapat diverifikasi, tidak banyak pernyataan langsung dari penyelam secara personal yang dipublikasikan kepada media.

Namun, gambaran mengenai kondisi yang mereka hadapi disampaikan oleh pejabat yang memimpin unsur operasi.

I Putu Sudayana menyebut bagian kompartemen bawah sebagai salah satu area paling berbahaya karena kondisi kestabilan kapal sulit dipastikan ketika penyelam memasukinya.

Sementara itu, Danlanal Banjarmasin Kolonel Laut (P) Galih Nurna Putra mengatakan penyelam telah bekerja hampir dua minggu di kedalaman.

Ia menyebut tekanan air, arus bawah laut yang keras dan risiko kontaminasi biologis dari jenazah sebagai tantangan utama.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran penting mengenai risiko yang dihadapi personel, bukan sekadar persoalan keberanian turun ke laut.

45 Penyelam dan Ancaman yang Tidak Terlihat

Risiko penyelaman bukan hanya berasal dari benda tajam atau struktur kapal.

Ada pula risiko medis akibat tekanan.

TNI AL menyebut tim medis khusus dan peralatan chamber portabel dari Lembaga Kesehatan Kelautan TNI AL atau Lakesla didatangkan untuk mendukung operasi.

Peralatan tersebut digunakan untuk membantu mitigasi risiko penyakit dekompresi.

Setelah kembali ke permukaan, penyelam juga menjalani prosedur sterilisasi. TNI AL menyebut protokol terapi oksigen hiperbarik dilakukan sekitar dua jam untuk membantu pemulihan kondisi personel.

Hal ini menjadi salah satu bagian penting dari operasi yang jarang terlihat masyarakat.

Ketika kamera hanya merekam penyelam turun ke laut, ada rangkaian pemeriksaan medis dan keselamatan yang berlangsung sebelum dan setelah mereka berada di bawah permukaan.

Dari Dasar Laut ke Kapal, Lalu ke Rumah Sakit

Penemuan korban di dasar laut bukan akhir dari proses.

Setelah dikeluarkan dari bangkai kapal, korban dibawa menuju kapal yang menjadi bagian dari operasi SAR.

Dalam sejumlah rangkaian evakuasi, korban dibawa menuju kapal seperti KRI I Gusti Ngurah Rai-332 atau KN SAR Pacitan untuk kemudian dipindahkan melalui jalur udara.

Pada 21 September, dua korban yang ditemukan penyelam masing-masing ditemukan pada pukul 09.04 WITA dan 09.13 WITA.

Keduanya kemudian diangkat dan dibawa menggunakan Helikopter Basarnas HR-3601 menuju Banjarmasin.

Pada operasi berikutnya, sembilan korban yang ditemukan pada 23 September dibawa menuju KN SAR Pacitan sebelum diterbangkan menggunakan helikopter untuk proses identifikasi.

Dengan demikian, alurnya bukan sekadar penyelam menemukan korban lalu korban langsung dibawa ke darat.

Ada rantai operasi:

penyelaman → penemuan → evakuasi dari bangkai → pemindahan ke kapal → evakuasi udara/laut → rumah sakit → identifikasi.

14 Hari, Penyelaman Terus Dilakukan

Pada Sabtu, 26 September 2026, operasi memasuki hari ke-14.

Dalam satu hari tersebut, tim SAR menemukan 11 korban. Empat korban ditemukan melalui operasi penyelaman di lokasi bangkai kapal, sedangkan tujuh lainnya ditemukan di wilayah pesisir Kalimantan Tengah.

Hingga pukul 20.00 WITA, total 172 dari 243 orang dalam manifes telah ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 64 orang meninggal dunia. Sebanyak 71 korban masih dalam pencarian.

Empat korban yang ditemukan di bangkai kapal pada hari ke-14 berasal dari rangkaian empat gelombang penyelaman.

Pada Shorty 1 dan Shorty 2, tim membuka akses dan memeriksa sejumlah kompartemen tanpa menemukan korban.

Pada Shorty 3, tiga jenazah ditemukan.

Kemudian Shorty 4 menghasilkan satu jenazah lagi.

Seluruhnya kemudian dievakuasi menggunakan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 untuk penanganan lebih lanjut oleh tim DVI.

Yang Terlihat dari Operasi Para Penyelam

Dari rangkaian operasi tersebut terlihat bahwa pekerjaan para penyelam KM Virgo bukan pekerjaan satu orang atau satu institusi.

Ada pembagian tugas, pengaturan gelombang penyelaman, pemilihan titik masuk, pemeriksaan struktur, pemantauan dari permukaan, evakuasi korban, dukungan kapal dan dukungan medis.

Operasi juga menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu berarti menemukan korban dalam setiap penyelaman.

Ada sesi yang digunakan untuk membuka akses.

Ada sesi yang menghasilkan korban.

Ada pula area yang belum dapat dimasuki karena pertimbangan keselamatan.

Karena itu, pernyataan Danlanal Banjarmasin bahwa kesehatan fisik dan mental penyelam menjadi prioritas menjadi bagian penting dalam memahami operasi ini.

Ketika Waktu di Dasar Laut Harus Dihitung

Bayangkan seorang penyelam turun puluhan meter ke dasar laut.

Di sana tidak ada kondisi seperti ruangan biasa.

Kapal berada dalam posisi terbalik. Cahaya sangat terbatas. Arus dapat mengganggu pergerakan. Struktur kapal tidak lagi berada dalam konfigurasi normal. Di dalamnya terdapat berbagai penghalang dan kompartemen yang harus diperiksa satu per satu.

Namun penyelam tetap harus mencari korban.

Itulah sebabnya angka 31 menit pada penyelaman 25 September menjadi salah satu gambaran paling konkret mengenai operasi tersebut.

Dalam waktu kurang dari satu jam, delapan penyelam bekerja bersama dan berhasil membawa lima jenazah keluar dari bangkai kapal.

Sementara pada hari berikutnya, operasi dibagi menjadi empat gelombang untuk menyisir sejumlah bagian kapal.

Pekerjaan tersebut terus berlangsung meski operasi telah memasuki pekan kedua.

Bagi keluarga korban, setiap penyelaman membawa harapan akan adanya kepastian.

Bagi penyelam, setiap penyelaman berarti kembali memasuki lingkungan yang memiliki risiko nyata.

Dan di antara keduanya, ada satu prinsip yang terus ditekankan dalam operasi: korban dicari, tetapi keselamatan penyelamat tidak boleh diabaikan.

Catatan Penting soal Mekanisme Penyelaman

Sejumlah informasi teknis yang beredar mengenai operasi KM Virgo perlu dibedakan antara yang sudah terkonfirmasi dan yang belum.

Hingga 27 September 2026, sumber resmi yang kami temukan mengonfirmasi adanya penyelaman BSG, Satkoppeba, Satkopaska, POSSI dan unsur terkait; pembukaan akses dengan memecahkan kaca; pembagian penyelaman dalam beberapa shorty; penyisiran berbagai kompartemen; serta dukungan chamber hiperbarik.

Namun, kami belum menemukan konfirmasi resmi yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa penyelam menggunakan ROV sebagai tahapan wajib sebelum setiap penyelaman, melakukan pengelasan bawah air, atau menggunakan pengait khusus untuk menarik tubuh korban.

Demikian pula, angka arus 3–8 knot tidak sebaiknya dipakai sebagai angka pasti untuk seluruh operasi. Keterangan resmi pada 17 September menyebut kondisi ketika itu memungkinkan penyelaman dengan arus sekitar 1,4–2 knot. Kondisi laut tentu dapat berubah menurut waktu dan lokasi.

Dengan demikian, mekanisme yang paling aman ditulis sebagai fakta adalah mekanisme yang telah terdokumentasi langsung: penentuan area, pembukaan akses, penyelaman bertahap, penyisiran kompartemen, evakuasi korban, pemindahan ke kapal, dukungan udara, kemudian identifikasi.

Operasi Masih Menyisakan Pekerjaan Besar

Pada hari ke-14, masih terdapat 71 korban yang dalam pencarian berdasarkan data Basarnas pukul 20.00 WITA.

Artinya, meskipun puluhan korban telah ditemukan melalui penyelaman, pekerjaan tim SAR belum selesai.

Bangkai KM Virgo Transport 8 masih menjadi salah satu titik utama pencarian, sementara penyisiran juga dilakukan melalui jalur laut, udara dan kawasan pesisir.

Operasi tersebut memperlihatkan sisi lain dari tragedi kapal tersebut: di balik angka korban dan perkembangan data harian, terdapat para penyelam yang harus kembali turun ke dasar laut berkali-kali untuk memeriksa ruang demi ruang.

Setiap penyelaman memiliki batas.

Setiap akses harus diperhitungkan.

Dan setiap korban yang berhasil dibawa keluar dari bangkai kapal menjadi satu kepastian tambahan bagi keluarga yang menunggu.

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Diterbitkan pertama kali oleh FAAL Redaksi Jam 20:03 Tanggal 27 September 2026 di Warta Bela Negara - WBN.

DARI REDAKSI

Kegiatan jurnalistik mengacu pada UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, Berbadan Hukum : Pasal 1 angka 2, Pasal 9 ayat (2) , termasuk Pasal 4 ayat (3) kemerdekaan pers, Pasal 6 peranan pers, dan Pasal 8 perlindungan wartawan menjalankan tugas dan Peraturan Dewan Pers No. 5/Peraturan-DP/IV/2008 tentang Perlindungan Profesi Wartawan.

Catatan : Dalam Melaksanakan Tugas Wartawan Kami Dilengkapi ID Card Resmi dan memilki Barcode yang terhubung pada database atau teregistrasi di box redaksi

Tim Redaksi memeriksa setiap artikel yang dipublikasi sesuai : Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

SANGAHAN

Pembaca berhak memperoleh informasi yang tepat, akurat dan benar serta dapat menggunakan hak jika ada keberatan dan koreksi melalui : Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai ketentuan UU Pers dan mekanisme yang berlaku.

Penerbit

Warta Bela Negara - WBN
Situs: wartabelanegara.com

Legal

PT Danakirti Media News
Nomor: AHU-0017454.AH.01.01.

Bisnis

PT Danakirti Media Groups
Nomor: AHU-0005878.AH.01.01-2022
NIB: 2801220007313
NPWP: 63.108.079.3-002.000
KBLI: 58130, 63122, 63912