JAKARTA, 7 September 2026 – Erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi menimbulkan kerugian Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari bagi maskapai penerbangan. Gangguan terutama diperkirakan terjadi pada penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta (CGK) serta Bandara Radin Inten II Lampung (TKG).
Erupsi Anak Krakatau Berpotensi Rugikan Maskapai
Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memperkirakan dampak ekonomi tersebut muncul akibat gangguan operasional penerbangan setelah sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau memengaruhi wilayah udara di sekitar jalur penerbangan.
Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengatakan, erupsi saat ini menyebabkan Volcanic Ash Advisory (VAA) di Flight Information Region (FIR) Jakarta. Sebaran abu bergerak ke arah timur laut dan berpotensi berdampak pada koridor penerbangan CGK dan TKG.
Menurut Bayu, terdapat tiga skenario gangguan operasional yang dapat terjadi, yakni pembatalan penerbangan (cancel), penundaan (delay), dan pengalihan penerbangan (divert).
Gangguan tersebut membuat maskapai menghadapi tekanan dari dua sisi. Pendapatan berkurang akibat penerbangan yang dibatalkan, sementara biaya operasional justru meningkat.
Pembatalan Penerbangan Tekan Pendapatan
INACA memperkirakan pembatalan sekitar 30 hingga 50 penerbangan dengan tingkat keterisian penumpang sekitar 80 persen dapat menghilangkan pendapatan maskapai sekitar Rp8 miliar hingga Rp15 miliar per hari.
Di sisi lain, maskapai juga harus menanggung tambahan biaya bahan bakar, awak pesawat, serta parkir pesawat. Komponen biaya tambahan tersebut diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar hingga Rp3 miliar per hari.
Maskapai juga berpotensi mengeluarkan biaya kompensasi dan pelayanan penumpang. Biaya tersebut mencakup makanan, akomodasi, hingga pengembalian dana tiket dengan estimasi Rp500 juta sampai Rp1,2 miliar per hari.
Jika seluruh komponen tersebut dihitung, total potensi kerugian maskapai akibat gangguan penerbangan diperkirakan mencapai Rp10 miliar hingga Rp19 miliar setiap hari.
Kerugian Bisa Capai Rp130 Miliar dalam Sepekan
Bayu memperkirakan kerugian akan meningkat apabila gangguan penerbangan akibat abu vulkanik berlangsung selama beberapa hari. Jika kondisi tersebut terjadi selama satu minggu, potensi kerugian maskapai dapat mencapai sekitar Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.
Angka tersebut belum memperhitungkan dampak terhadap reputasi maskapai serta kemungkinan berkurangnya pemesanan tiket pada periode berikutnya.
Penerbangan CGK dan TKG Paling Terdampak
Dalam kondisi status Siaga dengan tingkat peringatan abu vulkanik VAAC Orange, INACA memperkirakan sekitar 15 hingga 25 persen penerbangan dari CGK berpotensi mengalami keterlambatan atau pembatalan dalam sehari.
Sementara itu, penerbangan dari TKG diperkirakan menghadapi potensi gangguan yang lebih tinggi, yakni sekitar 40 hingga 60 persen penerbangan dalam sehari.
Gangguan tersebut dapat menimbulkan efek domino karena keterlambatan satu penerbangan dapat memengaruhi jadwal penerbangan berikutnya. INACA memperkirakan satu penerbangan yang tertunda di CGK dapat berdampak pada tiga hingga empat rute selanjutnya.
Biaya Perawatan Pesawat Ikut Meningkat
Selain kehilangan pendapatan dan biaya pelayanan penumpang, maskapai juga menghadapi risiko peningkatan biaya perawatan pesawat.
INACA memperkirakan maskapai perlu mengeluarkan biaya sekitar 20.000 hingga 50.000 dolar AS untuk setiap mesin setelah pesawat terbang di area yang terpapar abu vulkanik.
Abu vulkanik menjadi perhatian serius dalam operasional penerbangan karena dapat mengganggu kinerja mesin pesawat dan komponen lainnya. Karena itu, maskapai perlu menyesuaikan rute penerbangan berdasarkan informasi dan perkembangan sebaran abu.
Dampak Erupsi Anak Krakatau Bisa Meluas
Bayu mengatakan potensi kerugian dapat semakin besar bergantung pada arah pergerakan abu vulkanik, durasi erupsi, serta jumlah bandara yang terdampak.
Semakin luas sebaran abu dan semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula kemungkinan terjadinya penutupan atau pembatasan operasional di sejumlah bandara.
Dampaknya juga tidak hanya dirasakan industri penerbangan penumpang. Aktivitas penerbangan kargo berpotensi ikut terganggu sehingga dapat mendorong kenaikan biaya logistik.
Gangguan Berisiko Menggerus Kinerja Maskapai
INACA menilai dampak erupsi terhadap industri penerbangan dalam jangka pendek masih dapat dikelola. Namun, situasinya berpotensi menjadi lebih serius apabila erupsi dan sebaran abu vulkanik berlangsung lebih dari lima hari.
Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu titik penting karena berfungsi sebagai hub penerbangan yang menghubungkan banyak rute domestik. Gangguan di bandara tersebut dapat menimbulkan efek berantai terhadap jaringan penerbangan nasional.
Selain itu, erupsi terjadi pada kuartal III 2026 yang bertepatan dengan periode aktivitas pariwisata yang relatif tinggi. Kondisi tersebut membuat gangguan penerbangan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap sektor pariwisata dan ekonomi terkait.
Bayu memperkirakan gangguan operasional selama satu minggu bahkan dapat menghapus laba maskapai dalam satu bulan. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi industri penerbangan yang masih berada dalam proses pemulihan setelah pandemi COVID-19.
Kecepatan Informasi Abu Vulkanik Jadi Kunci
Menurut Bayu, dampak gangguan saat ini masih berada pada level operasi tidak teratur atau irregular operations (IROP) dan masih dapat dikelola.
Namun, apabila erupsi dan sebaran abu vulkanik berlangsung lebih dari lima hari, dampak ekonominya berpotensi menembus Rp100 miliar dan mulai menggerus target kinerja maskapai pada kuartal III dan IV 2026.
Karena itu, kecepatan penyampaian informasi mengenai perkembangan sebaran abu vulkanik menjadi faktor penting bagi maskapai untuk menentukan langkah operasional, termasuk penyesuaian rute dan jadwal penerbangan.
INACA menilai fleksibilitas pengaturan rute serta informasi dari otoritas penerbangan menjadi kunci untuk mengurangi dampak gangguan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap industri penerbangan.
Penulis: Amanda
WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Maskapai Rugi Rp19 Miliar
Dibuat oleh Amanda pada 20:08 WIB, 7 September 2026
Konten artikel berita ini telah melalui proses verifikasi sesuai standar jurnalistik oleh Tim Redaksi untuk memastikan informasi yang akurat dan berimbang.
INFORMASI HUKUM & ETIKA JURNALISTIK:
Karya jurnalistik ini diproduksi dengan tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.



