Berita InternasionalHeadline NewsPertahanan Keamanan dan Ketertiban

AS Serang Iran Malam ke-12, Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik

Amanda
×

AS Serang Iran Malam ke-12, Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik

Sebarkan artikel ini
AS Serang Iran Malam ke-12, Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik
AS Serang Iran Malam ke-12, Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik

WASHINGTON, 23 JULI 2026 Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran untuk malam ke-12 secara berturut-turut. Operasi militer yang diumumkan Komando Pusat AS (CENTCOM) itu menargetkan fasilitas maritim, penyimpanan rudal dan drone, lokasi pengawasan pesisir, serta sistem pertahanan udara Iran. Di saat bersamaan, Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur strategis Iran apabila terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.

AS Lanjutkan Serangan Udara ke Iran

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi terbaru difokuskan pada fasilitas yang dinilai mendukung kemampuan militer Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional.

Sasaran serangan mencakup fasilitas maritim, gudang penyimpanan rudal dan pesawat nirawak (drone), lokasi pengawasan pesisir, hingga sistem pertahanan udara.

Militer AS menyebut operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap kapal komersial maupun pelaut sipil yang melintas di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Selain itu, Washington menilai langkah tersebut penting untuk menjaga keamanan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras terkait eskalasi konflik dengan Teheran.

Trump mengatakan Amerika Serikat akan menghancurkan satu jembatan atau satu pembangkit listrik setiap kali Iran menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut menunjukkan perluasan strategi Washington yang kini tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga membuka kemungkinan serangan terhadap infrastruktur strategis apabila ancaman terhadap jalur pelayaran terus berlanjut.

Ketegangan kedua negara semakin meningkat seiring meluasnya operasi militer di kawasan yang menjadi pusat perdagangan minyak dunia.

Lebih dari 50.000 Personel AS Disiagakan

CENTCOM menyebut lebih dari 50.000 personel militer Amerika Serikat saat ini berada di Timur Tengah dengan status siaga tinggi.

Militer AS juga mengklaim telah mengalihkan sembilan kapal komersial dan menonaktifkan satu kapal dalam beberapa pekan terakhir sebagai bagian dari upaya membatasi aktivitas pelayaran menuju pelabuhan-pelabuhan Iran.

Washington menegaskan langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko serangan terhadap kapal sipil dan menjaga keamanan lalu lintas maritim internasional.

Houthi Klaim Serang Dua Tanker Minyak Saudi

Di tengah meningkatnya ketegangan, kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi, yakni Encelia dan Layla, menggunakan rudal balistik serta rudal jelajah.

Kelompok tersebut menuduh kedua kapal melanggar blokade laut yang sebelumnya diumumkan terhadap pelabuhan Saudi di Laut Merah.

Sumber keamanan maritim menyebut kapal tanker Encelia mengirim sinyal darurat setelah dilaporkan terkena rudal dan mengalami kebakaran di dekat Pelabuhan Jizan.

Perusahaan keamanan maritim Vanguard serta UK Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan sebuah kapal tanker mengalami kebakaran setelah terkena proyektil tak dikenal di wilayah yang sama.

Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.

Insiden Masih Diverifikasi

UKMTO menyebut nahkoda kapal melaporkan serangan terjadi sekitar 130 kilometer di barat daya Al Shuqaiq, Arab Saudi.

Houthi juga mengklaim telah menyerang kapal tanker kedua, Layla, namun hingga kini klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah tanker mengubah rute pelayaran setelah kelompok Houthi mengeluarkan peringatan agar kapal-kapal menghindari pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah.

Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran internasional dan potensi gangguan terhadap distribusi energi global apabila konflik terus meluas.

Penulis : Amanda

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Official Content: wartabelanegara.com | Hash: 52f594900f45e668e0c1966269ecd80d | 2026

Konten artikel berita ini telah melalui proses verifikasi sesuai standar jurnalistik oleh Tim Redaksi untuk memastikan informasi yang akurat dan berimbang.

REGULASI & ETIKA JURNALISTIK:

Karya jurnalistik ini diproduksi dengan tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers : Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber

Sesuai Pasal 1 butir 11 UU Pers, kami menyediakan ruang Hak Jawab bagi pihak yang merasa dirugikan.