Berita

Makar Global dan Perlawanan Umat: Membaca Tafsir Qur’ani di Era Disrupsi (Bagian 7 – Oleh: Aep Saepullah Mubarok)

Redaksi Garut
×

Makar Global dan Perlawanan Umat: Membaca Tafsir Qur’ani di Era Disrupsi (Bagian 7 – Oleh: Aep Saepullah Mubarok)

Sebarkan artikel ini

 

Portal warta bela negara Com14 September 2025-makar tidak berhenti di Madinah atau di Darun Nadwah. Ia mMakar Global dan Perlawanan Umat: Membaca Tafsir Qur’ani di Era Disrupsi
(Bagian 7 – Oleh: Aep Saepullah Mubarok)

Makar tidak berhenti di Madinah atau di Darun Nadwah. Ia menjelma lintas zaman, bahkan hari ini tampil sebagai makar global. Konspirasi modern tidak lagi sebatas intrik politik lokal, tetapi jaringan internasional yang mengendalikan ekonomi, politik, budaya, hingga opini publik.

Kolonialisme klasik dulu hanya menguasai tanah dan sumber daya. Kini lahir wajah baru: neo-kolonialisme. Negara-negara berkembang dijerat utang, pasar dikendalikan kartel global, energi dan pangan dimonopoli. Di bidang budaya, generasi muda dicekoki gaya hidup instan, hiburan tanpa batas, hingga arus pornografi digital. Semua ini adalah bentuk makar: melemahkan umat tanpa perlu menurunkan tentara.¹

Di sinilah muncul istilah disrupsi. Berasal dari kata disruption, artinya gangguan besar atau perubahan mendasar yang mengguncang sistem lama. Kalau perubahan biasa berlangsung pelan, disrupsi datang tiba-tiba, radikal, dan membuat banyak pihak tak siap.² Contoh sederhana: hadirnya transportasi online yang menumbangkan model konvensional hanya dalam hitungan tahun.

Dalam konteks global, disrupsi bekerja melalui teknologi digital, media sosial, dan algoritma. Narasi bisa dibalik: yang salah tampak benar, yang benar dicitrakan salah. Bangsa tidak perlu lagi dijajah dengan senjata; cukup melalui aplikasi, utang, gaya hidup, dan pasar digital.³

Al-Qur’an jauh-jauh hari sudah mengingatkan:

وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِندَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِن كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ
“Sungguh, mereka telah membuat makar mereka, padahal makar itu sudah dalam pengetahuan Allah. Sesungguhnya makar mereka tidak akan mampu menghancurkan gunung-gunung.” (QS. Ibrahim: 46)

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menegaskan bahwa makar orang kafir, sekuat apa pun, tidak akan mampu mengalahkan ketetapan Allah. “Gunung” adalah simbol kokohnya agama dan janji Allah, yang tidak akan bisa diguncang oleh tipu daya manusia.⁴

Tafsir al-Tabari menambahkan, yang dimaksud dengan “gunung” adalah permisalan bagi sesuatu yang paling kuat dan teguh di muka bumi. Artinya, makar sebesar apa pun tetap lemah jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang menjaga agama-Nya.⁵

Pesannya jelas: makar manusia bisa mengguncang peradaban, tapi tetap rapuh di hadapan makar Allah.

Lalu apa yang bisa dilakukan umat? Jawabannya ada empat: kemandirian, literasi kritis, solidaritas, dan kepemimpinan visioner. Dengan itu, umat tidak akan hanyut oleh arus disrupsi, tetapi justru mampu menjadikannya peluang untuk bangkit.

Catatan Kaki

1. Kwame Nkrumah, Neo-Kolonialisme: Tahap Terakhir Imperialisme, terj. H. Sulaiman (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985).

2. Clayton M. Christensen, Dilema Inovator: Saat Teknologi Baru Mengguncang Perusahaan Besar (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2016).

3. Michel Foucault, Pengetahuan dan Kekuasaan, terj. Arief (Yogyakarta: IRCiSoD, 2002).

4. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 4 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), hlm. 514.

5. Al-Tabari, Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, Juz 13 (Beirut: Dār al-Fikr, 2001), hlm. 152.enjelma lintas zaman, bahkan hari ini tampil sebagai makar global. Konspirasi modern tidak lagi sebatas intrik politik lokal, tetapi jaringan internasional yang mengendalikan ekonomi, politik, budaya, hingga opini publik.

Kolonialisme klasik dulu hanya menguasai tanah dan sumber daya. Kini lahir wajah baru: neo-kolonialisme. Negara-negara berkembang dijerat utang, pasar dikendalikan kartel global, energi dan pangan dimonopoli. Di bidang budaya, generasi muda dicekoki gaya hidup instan, hiburan tanpa batas, hingga arus pornografi digital. Semua ini adalah bentuk makar: melemahkan umat tanpa perlu menurunkan tentara.¹

Di sinilah muncul istilah disrupsi. Berasal dari kata disruption, artinya gangguan besar atau perubahan mendasar yang mengguncang sistem lama. Kalau perubahan biasa berlangsung pelan, disrupsi datang tiba-tiba, radikal, dan membuat banyak pihak tak siap.² Contoh sederhana: hadirnya transportasi online yang menumbangkan model konvensional hanya dalam hitungan tahun.

Dalam konteks global, disrupsi bekerja melalui teknologi digital, media sosial, dan algoritma. Narasi bisa dibalik: yang salah tampak benar, yang benar dicitrakan salah. Bangsa tidak perlu lagi dijajah dengan senjata; cukup melalui aplikasi, utang, gaya hidup, dan pasar digital.³

Al-Qur’an jauh-jauh hari sudah mengingatkan:

وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِندَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِن كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ
“Sungguh, mereka telah membuat makar mereka, padahal makar itu sudah dalam pengetahuan Allah. Sesungguhnya makar mereka tidak akan mampu menghancurkan gunung-gunung.” (QS. Ibrahim: 46)

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menegaskan bahwa makar orang kafir, sekuat apa pun, tidak akan mampu mengalahkan ketetapan Allah. “Gunung” adalah simbol kokohnya agama dan janji Allah, yang tidak akan bisa diguncang oleh tipu daya manusia.⁴

Tafsir al-Tabari menambahkan, yang dimaksud dengan “gunung” adalah permisalan bagi sesuatu yang paling kuat dan teguh di muka bumi. Artinya, makar sebesar apa pun tetap lemah jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang menjaga agama-Nya.⁵

Pesannya jelas: makar manusia bisa mengguncang peradaban, tapi tetap rapuh di hadapan makar Allah.

Lalu apa yang bisa dilakukan umat? Jawabannya ada empat: kemandirian, literasi kritis, solidaritas, dan kepemimpinan visioner. Dengan itu, umat tidak akan hanyut oleh arus disrupsi, tetapi justru mampu menjadikannya peluang untuk bangkit.

Catatan Kaki

1. Kwame Nkrumah, Neo-Kolonialisme: Tahap Terakhir Imperialisme, terj. H. Sulaiman (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985).

2. Clayton M. Christensen, Dilema Inovator: Saat Teknologi Baru Mengguncang Perusahaan Besar (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2016).

3. Michel Foucault, Pengetahuan dan Kekuasaan, terj. Arief (Yogyakarta: IRCiSoD, 2002).

4. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 4 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), hlm. 514.

5. Al-Tabari, Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, Juz 13 (Beirut: Dār al-Fikr, 2001), hlm. 152.

(Jajang ab)

Informasi Terkait: Baca rangkuman berita Nasional, Daerah, dan Internasional terbaru secara lengkap di halaman Berita Terkini Wartabelanegara .

WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif :  Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.

Official Content: wartabelanegara.com | Hash: 43473c009e8bf825c6e4b0886d3e9a69 | 2026

Makar Global dan Perlawanan Umat: Membaca Tafsir Qur’ani di Era Disrupsi (Bagian 7 – Oleh: Aep Saepullah Mubarok)

Diterbitkan pertama kali oleh Redaksi Garut pada 09:46 WIB, 14 September 2025

Seluruh konten di portal Warta Bela Negara telah melalui proses verifikasi fakta dan penyuntingan sesuai standar operasional prosedur oleh Tim Dewan Redaksi untuk memastikan informasi yang akurat dan berimbang.

INFORMASI HUKUM & ETIKA JURNALISTIK:

Karya jurnalistik ini diproduksi dengan tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Kami menjamin perlindungan Hak Cipta atas seluruh materi yang dipublikasikan. Penyalinan tanpa izin atau pelanggaran hak intelektual akan ditindaklanjuti sesuai prosedur hukum.

Sesuai Pasal 1 butir 11 UU Pers, kami menyediakan ruang Hak Jawab bagi pihak yang merasa dirugikan.
Fingerprint: Warta Bela Negara - WBN-25300