Garut, 18 Juli 2026 – Duka mendalam masih menyelimuti Kabupaten Garut setelah tragedi tenggelamnya delapan siswi MTs Miftahul Ulum Cigedug saat mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan dan Kegiatan Sekolah (MPLS) di kawasan mata air Cihaniwung, Desa Cidatar, Kecamatan Cisurupan, pada Kamis (16/7/2026).
Dalam peristiwa tersebut, seluruh korban berhasil dievakuasi oleh tim gabungan. Namun, satu siswi, Siti Jamilah, warga Kampung Cibuntu RT 01/RW 01, Desa Sindangsari, dinyatakan meninggal dunia. Kejadian itu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat Garut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para siswi diduga tidak mengetahui bahwa lokasi mata air yang digunakan untuk kegiatan memiliki bagian yang cukup dalam. Sebagian besar korban juga disebut tidak memiliki kemampuan berenang, sehingga situasi dengan cepat berubah menjadi musibah.
Direktur Sekolah Sungai Cimanuk (SSC), Mulyono Kadhafi, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas tragedi tersebut. Menurutnya, peristiwa ini harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak agar pelaksanaan kegiatan sekolah selalu mengutamakan keselamatan peserta didik.
Sebagai bentuk kepedulian, Mulyono juga melakukan komunikasi dengan Camat Cigedug, Ma’mun Gunawan, S.Ag., M.KP., untuk membahas pentingnya evaluasi terhadap kegiatan luar ruang yang melibatkan para siswa.
Dalam keterangannya, Camat Cigedug menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang menimpa salah satu warganya. Ia mengingatkan agar seluruh satuan pendidikan senantiasa mematuhi ketentuan pemerintah daerah, mengikuti prosedur operasional standar (SOP), serta melakukan penilaian risiko sebelum melaksanakan kegiatan di lapangan.
Mulyono Kadhafi kemudian mengusulkan agar kegiatan MPLS ke depan lebih diarahkan pada aktivitas yang bersifat edukatif, aman, dan berdampak positif bagi lingkungan. Menurutnya, kegiatan seperti membersihkan sungai, menanam pohon, serta edukasi pelestarian lingkungan jauh lebih bermanfaat karena mampu menumbuhkan kepedulian siswa terhadap alam sejak usia dini.
Anak-anak harus dibiasakan mencintai lingkungan sejak kecil. Sungai yang bersih dan hutan yang terjaga akan mengurangi risiko banjir, erosi, dan kerusakan lingkungan. Pendidikan karakter bisa dimulai dari aksi nyata, bukan hanya di dalam kelas, ujarnya.
Ia berharap tragedi ini menjadi momentum evaluasi bersama agar kegiatan MPLS tidak hanya menjadi ajang pengenalan sekolah, tetapi juga membentuk karakter, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan yang terpenting menjamin keselamatan seluruh peserta didik.
Musibah ini menjadi pengingat bahwa keselamatan siswa harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan pendidikan. Duka mendalam atas kepergian Siti Jamilah diharapkan menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
(Junaedi)
WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Tragedi MPLS Berujung Duka Direktur Sekolah Sungai Cimanuk Ajak Ubah Pola Kegiatan Menjadi Peduli Lingkungan
Dibuat oleh Abah Rohman pada 22:34 WIB, 18 Juli 2026
Konten artikel berita ini telah melalui proses verifikasi sesuai standar jurnalistik oleh Tim Redaksi untuk memastikan informasi yang akurat dan berimbang.
INFORMASI HUKUM & ETIKA JURNALISTIK:
Karya jurnalistik ini diproduksi dengan tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.



