Wartabelanegara.com_ Polewali Mandar_ Kerusakan bronjong penahan tebing sungai di Dusun Kanang, Desa Batetangnga, Kabupaten Polewali Mandar, kian mengkhawatirkan. Akibat abrasi luapan air sungai yang terjadi dalam dua tahun terakhir tidak hanya mengikis daratan, tetapi juga mengancam fasilitas umum vital serta pemukiman warga setempat.
Herman, warga Dusun Kanang, mengungkapkan bahwa kerusakan tanggul bronjong sepanjang sekitar 50 meter tersebut terjadi secara bertahap dalam dua gelombang banjir besar.
“Awalnya sekitar dua tahun lalu, bronjong penahan ini mulai bergeser dan jatuh. Lalu pada musim hujan tahun kemarin, runtuh lagi dan hanyut terbawa arus,” ujar Herman saat ditemui di lokasi, Senin (7/9/2026).
Ambruknya material bronjong yang terseret derasnya arus sungai kini menyisakan ancaman serius bagi keselamatan dan stabilitas lingkungan sekitar:
Terkikisnya tebing sungai menyebabkan fondasi bawah jembatan runtuh secara perlahan. Selain itu, tiang listrik utama yang berdiri di dekat bibir sungai rawan tumbang jika erosi kembali terjadi.
Jembatan tersebut merupakan urat nadi transportasi yang menghubungkan Desa Batetangnga dengan Desa Kaleok serta dusun-dusun tetangga yang padat penduduk. Jika jembatan ini roboh, mobilitas dan aktivitas ekonomi warga dipastikan lumpuh total.
Tanpa adanya struktur penahan tebing yang kokoh, luapan air dan longsor susulan pada musim hujan mendatang dikhawatirkan langsung menerjang deretan rumah warga yang berada tepat di dekat titik lokasi abrasi.
Melihat struktur bronjong kawat yang terbukti tidak kuat menahan terpaan banjir, warga berharap pihak terkait tidak lagi menggunakan konstruksi serupa untuk penanganan jangka panjang.
“Pengalaman kami, bronjong tidak bertahan menahan luapan air yang besar. Warga berharap pemerintah bisa membangun dinding penahan menggunakan batu gajah, karena struktur batu gajah terbukti lebih kokoh dan tahan lama di titik lokasi lainnya,” tegas Herman.
Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Desa Batetangnga, Sumaila Damang, membenarkan kondisi memprihatinkan yang dialami wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa pihak desa telah berulang kali memasukkan usulan perbaikan penahan tebing sungai ke dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun, keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) serta anggaran daerah membuat pembenahan skala besar belum bisa direalisasikan.
Menurut Sumaila, potensi bencana akibat luapan sungai di Desa Batetangnga tidak hanya berada di satu lokasi, melainkan tersebar di beberapa titik rawan.
“Sebenarnya di Desa Batetangnga ada beberapa titik yang sangat terancam jika musim hujan tiba akibat luapan air sungai yang deras. Karena keterbatasan anggaran, kami sangat berharap ada respon cepat dari Balai Wilayah Sungai (BWS) maupun program dukungan seperti TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD),” jelas Sumaila.
Saat ini, warga beserta pemerintah desa hanya bisa berharap adanya langkah konkret dan respons cepat dari instansi kementerian terkait maupun pemerintah daerah serta program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) sebelum musim penghujan tiba dan memicu dampak yang lebih parah.
WBN- WARTABELANEGARA.COM | Objektif - Informatif - Edukatif : Berita Terkini, Terbaru , Terpercaya.
Konten artikel berita ini telah melalui proses verifikasi sesuai standar jurnalistik oleh Tim Redaksi untuk memastikan informasi yang akurat dan berimbang.
REGULASI & ETIKA JURNALISTIK:
Karya jurnalistik ini diproduksi dengan tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers : Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber



